Korban Koran

Document Details:
  • Uploaded: December, 16th 2014
  • Views: 123 Times
  • Downloads: 0 Times
  • Total Pages: 2 Pages
  • File Format: .docx
  • File size: 196.76 KB
  • Uploader: juliet
  • Category: Miscellaneous
 add to bookmark | report abuse
KORBAN KORAN
Informasi dewasa ini sudah bisa diakses melalui apapun, internet pun sudah menjadi
bagian kehidupan masyarakat. Semakain mudahnya pengaksessan informasi kinipun berdampak
pada orang-orang yang bergantung pada Koran, yah memang terdengar klise tapi itu nyata
adanya. Para penjual Koran kini mulai terdesak keberadaanya. Tergerak hati saya untuk leih
menyelami kehidupan mereka, bagaimanakah keadaan yang riil yang mereka alami. Apakah
bertambah buruk saja , atau setidaknya sama saja dengan dulu kala? Sore ini, langit Jogja sedang
bersahabat. Sinar maentari yang mulai temaram menandakan kehidupan yang akan berganti, para
pedagang kaki lima mulai menghiasi pinggir jalan yang disesaki lalu lalang kendaraan. Akupun
berada didalam kerumuman itu, berpacu dengan waktu untuk segera menemui seseorang.
Sesampainya di Stasiun Tugu, aku menemuinya. Dengan senyum ramah khas penjual
penuh pengharapan, dia menawarkan Koran-koran yang belum laku padaku. Awalnya dialog alot
terjadi diantara kita, sekedar basa-basi bertanya tentang biodatanya. Lelaki paruh baya,
berjenggot, memakai peci, dan tak lupa rompi khas penjual asongan stasiun itu bernama
Sunardi, umurnya sekitar 49 tahun, beristri dan mempunyai 3 orang anak. Bertempat tinggal di
Jogoyudan, Jogjakarta. Dia adalah salah satu dari beberapa penjual Koran di Stasiun yang tiap
harinya ramai oleh para pendatang dan pelancong yang ingin mencicipi kota yang menjadi poros
budaya Jawa ini.
Dia mengawali profesi ini karena tidak ada pilihan lain, alsan yang pasti sudah tercantum
dalam pikiranku. Tidak ada pilihan untuk mendapatkan pekerjaan yang mumpuni di kota
Jogjakarta untuk lulusan SMP sepertinya. Hanya pekerjaan kasar yang menyita tenaga dan
waktu, itupun lebih baik upahnya daripada berjualan Koran. Tapi inilah jalan yang ditempuh
Sunardi, sebelum menjadi pedagang Koran dia adalah seorang Supir angkutan umum. Karena
dirasa semakin lama pendapatan semakin sedikit sementara harga BBM semakin mencekik,
dilain hal kendaraan bermotor pun semakin mudah didapat hanya dengan membayar 500 ribu di
dealer-dealer motor, berbeda dengan jaman dahulu. Pekerjaan yang sarat akan resiko ini dia
jalani dengan keikhlasan. Bagaimana tidak beresiko, jika koran yang dia ambil tak habis maka
dia harus mengganti uang koran yang harus disetorkan ke tengkulak dengan uang pribadinya
sendiri. Belum juga dengan uang keamanan dan pajak yang harus dikeluarkan jika ia berjualan di
lingkungan stasiun. Jogjakarta yang terkenal dengan keramahanya lama-lama berubah menjadi
kandang macan dibalik tirai harapan.
Jika kita melihat dari segi pendapatan, 50 ribu adalah pendapatan yang dominan pada
hari-hari biasa dan 100 ribu pendapatan pada saat akhir minggu, itupun masih pendapatan kotor.
Miris memang, tak berhenti sampai disitu saat menanyainya kenapa dia tetap setia menjalani
profesi yang untung dan ruginya fluktuatif, jawaban yang dilontarkan membuatku kaget “Lha
gimana lagi wong ini sudah takdir, bagaimanapun juga harus dijalani dengan Ikhlas,” jawabnya
seraya tertawa.
Untuk mencukupi kebutuhan keluarga, Pak Sunardi dan keluarganya harus bertahan
dengan hidup apa adanya. Ora neko-neko kata orang Jawa, harapanya jika nanti pembangunan
lokalisasi pedagang Koran dan asongan di Stasiun Tugu itu cepat terselesaikan, semoga harga
sewa tempat tidak mencekik para kaum bawah tersebut. Akankah lokalisasi yang dipilih sebagai
solusi pemerintah tersebut bisa berdampak dengan hak mereka untuk mendapatkan
kesejahteraan? Jika tidak, apa langkah cadangan yang akan dilakukan pemerintah untuk
menyiasati hal tersebut?
Tags: