2CulturalStudiesAnalisisKuasaAtasKebudayaan AuliaRdanSyafridaNF

Document Details:
  • Uploaded: December, 14th 2017
  • Views: 39 Times
  • Downloads: 0 Times
  • Total Pages: 17 Pages
  • File Format: .pdf
  • File size: 288.48 KB
  • Uploader: eljatawe
  • Category: Social > Culture
 add to bookmark | report abuse
Cultural Studies : Analisis Kuasa Atas Kebudayaan
Aulia Rahmawati, S.Sos, M.Si dan Syafrida Nurrachmi F, S.Sos, M.Med.Kom
Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UPN Veteran Jatim
Abstract
Cultural studies, which were the new paradigm in social sciences, put culture into whole
new dimension. Not only as the creation of human lives and behaviours, but also seek a
deeper understanding between culture and the power within it. The purpose of cultural
studies are to discover powers and ideologies that shape the human everyday lives.
Everything that seemingly and perfectly normal like fashion, advertising or even the
culture of dining out, are shaped by discourse of ideologies. Some pivotal methods used
in cultural studies are encoding/decoding and the mythology (semiotics) of Roland
Barthes. In media studies, cultural studies uncovered the hidden truths and agenda in
media practices, such as advertising, which usually construct and represent the
hegemonic views of societies.
Keywords : culture, encoding/decoding, mythologies
Abstraksi
Cultural studies, yang merupakan paradigma baru dalam kajian ilmu sosial,
memperkenalkan budaya dalam dimensi yang baru. Bukan hanya sebagai kreasi manusia
dan hasil perilaku, melainkan menelaah pemahaman mendalam antara budaya dan
kekuasaan yang mendasarinya. Tujuan dari kajian budaya adalah untuk meneliti
kekuasaan dan ideologi yang membentuk kehidupan sehari-hari manusia. Segala yang
tampak normal dan apa adanya dalam kehidupan sehari-hari, seperti iklan bahkan
perilaku nongkrong adalah produk bentukan dari sebuah ideology. Metodologi krusial
dalam membedah peran ideologi salah satunya melalui analisis metodologi dengan
semiotika Roland Barthes. Dalam kajian media, mitologi dengan tajam menelaah
bagaimana ideology yang dominant menghegemoni praktik kehidupan masyarakat sehari-
hari.
Pendahuluan
Kajian ilmu komunikasi yang cenderung linier dan transmisional serasa
mendapatkan angin segar dengan kehadiran kajian budaya, atau yang disebut cultural
studies. Kajian ini relatif baru, dalam artian lahir disekitar tahun 60-an. Hingga kini,
kajian ini masih hangat dikalangan pemerhati dan akademisi yang progresif. Tak hanya
dibidang ilmu komunikasi saja, cultural studies juga merambah bidang keilmuwan yang
lain seperti psikologi, antropologi, linguistik ilmu politik hingga sains. Mengapa bisa
begitu ? karena memang yang menjadi objek perhatiannnya adalah budaya, tentu saja
dalam arti luas.
Apa sebenarnya pengertian dari budaya dalam konteks cultural studies ?
Kebudayaan merupakan sebuah kata yang relatif sulit didefinisikan karena memang
ruang lingkupnya yang terlalu luas, dalam buku Seri mengenal dan Memahami Sosiologi,
Richard Osborne dan Borin Van Loon merinci apa-apa saja yang bisa masuk dalam
kategori kebudayaan. Hal-hal itu adalah : (Osborne, Van Loon , 2005 : 139) :
1. Norma-norma , nilai-nilai , ide-ide , dan cara melakukan sesuatu di
masyarakat tertentu.
2. Semua sarana komunikasi, seni, benda-benda material, dan objek-objek , yang
sama-sama dimiliki oleh suatu masyarakat. Pengembangan pikiran, peradaban
dan cara belajar masyarakat.
3. Cara hidup yang dianut oleh kelompok budaya tertentu.
4. Praktik-praktik yang menghasilkan makna dalam suatu masyarakat (yang
menandakan praktik tersebut).
Dari definisi diatas, budaya terasa hampir meliputi segala sesuatu, dan cultural
studies berarti mempelajari hampir segala sesuatu. Tidak mengherankan jika cultural
studies tak memiliki batasan wilayah subjek yang didefinisikan secara jelas. Titik
pijaknya adalah sebuah ide mengenai budaya yang sangat luas dan mencakup semua hal
yang digunakan untuk menggambarkan dan mempelajari bermacam-macam kebiasaan.
Inilah yang membuat cultural studies berbeda dari disiplin ilmu yang lain. Cultural
studies juga merupakan disiplin ilmu yang menggabungkan dan meminjam secara bebas
dari disiplin ilmu sosial, ilmu humaniora dan seni. Ia mengambil teori-teori dan
metodologi dari ilmu apapun yang diperlukannya sehingga menciptakan sebuah bifurkasi.
‘Budaya’ dalam cultural studies tak didefinisikan sebagai ‘budaya tinggi’, sebuah
budaya adiluhung estetis, namun lebih kepada teks dan praktik kehidupan sehari-hari .
Budaya dalam cultural studies bersifat politis , yaitu sebagai ranah konflik dan
pergumulan kekuasaan. Kiranya, budaya dan pergumulan kekuasaan yang melingkupinya
inilah yang menjadi inti dari cultural studies.
Sardar dan Van Loon dalam Memahami Cultural Studies memberikan
karakteristik yang mudah-mudahan bisa memberi batasan kajian ini : (Sardar, Van Loon ,
2005 : 9) :
1. Cultural studies bertujuan menelaah persoalan dari sudut praktik
kebudayaan dan hubungannya dengan kekuasaan. Tujuannya adalah untuk
mengungkapkan hubungan kekuasaan dan mengkaji bagaimana hubungan
tersebut mempengaruhi dan mambentuk praktik-praktik kebudayaan.
2. Cultural studies tidak hanya semata-mata studi mengenai budaya, seakan-
akan budaya itu terpisah dari konteks sosial dan politiknya. Tujuannya
adalah memahami budaya dalam segala bentuk kompleksnya dan
menganalisis konteks sosial politik tempat dimana budaya itu mewujudkan
dirinya.
3. Budaya dalam cultural studies selalu menampilkan dua fungsi : sekaligus
merupakan objek studi dan lokasi tindakan kritisisme politik. Cultural
studies bertujuan menjadi keduanya, baik usaha pragmatis maupun
intelektual.
4. Cultural studies berupaya menyingkap dan mendamaikan pengotakan
pengetahuan, mengatasi perpecahan antara bentuk (pengetahuan yang tak
tampak pengetahuan intuitif berdasarkan budaya lokal) dan yang objektif
(yang dinamakan universal). Bentuk-bentuk pengetahuan cultural studies
mengasumsikan suatu identitas bersama dan kepentingan antara yang
mengetahui dan yang diketahui, antara pengamat dan yang diamati.
5. Cultural studies terlibat dengan evaluasi moral masyarakat modern dan
dengan garis radikal aksi politik. Tradisi cultural studies bukanlah tradisi
kesarjanaan yang bebas nilai, melainkan tradisi yang punya komitmen
terhadap rekonstruksi sosial dengan terlibat kedalam kritik politik. Jadi,
cultural studies bertujuan memahami dan mengubah struktur dominasi
dimanapun, tetapi secara lebih khusus dalam masyarakat kapitalis industri.
Berbicara mengenai kekuasaan tentu tak terlepas dengan teori Marxisme dan
apapun teori yang belakangan muncul karena terinspirasi ajaran Karl Marx. Begitupun
dengan cultural studies , yang mendasarkan pada marxisme. Marxisme menerangkan
cultural studies dalam dua cara fundamental. Pertama, untuk memahami makna dari teks
atau praktik budaya, kita harus menganalisisnya dalam konteks sosial dan historis
produksi dan konsumsinya. Akan tetapi, walau terbentuk oleh struktur sosial tertentu
dengan sejarah tertentu, budaya tidak dikaji sebagai refleksi dari struktur dan sejarah ini.
Sejarah dan budaya bukanlah entitas yang terpisah. Cultural studies menegaskan bahwa
nilai pentingnya budaya berasal dari fakta bahwa budaya membantu membangun struktur
dan membentuk sejarah. Dengan kata lain, teks budaya misalnya, tak sekedar
merefleksikan sejarah. Teks budaya membuat sejarah dan merupakan bagian dari
pelbagai proses dan praktiknya, dan oleh karena itu, seharusnya dikaji karena pekerjaan
(ideologis) yang dilakukan, dan bukan karena pekerjaan (ideologis) yang direfleksikan
(yang senantiasa berlangsung di tempat lain ).(Storey, 2007 : 4)
Asumsi kedua menurut Storey adalah pengenalan bahwa masyarakat industri
kapitalis adalah masyarakat yang disekat-sekat secara tidak adil menurut, misalnya garis
etnis, gender, keturunan, dan kelas. Cultural studies berpendapat bahwa budaya
merupakan salah satu wilayah prinsipil dimana penyekatan ini ditegakkan dan
dipertandingkan. Budaya adalah suatu ranah tempat berlangsungnya pertarungan terus
menerus atas makna, dimana kelompok-kelompok subordinat mencoba menentang
penimpaan makna yang sarat akan kepentingan kelompok-kelompok dominan. Inilah
yang membuat budaya bersifat ideologis.
Ideologi merupakan sebuah konsep sentral dalam cultural studies. Bagaimana
ideologi dominan bisa diterima perlahan-lahan oleh kelompok subordinat inilah yang
disebut dengan hegemoni. Konsep hegemoni ini diambil dari Antonio Gramsci, seorang
neo-marxis asal Italia. Ia menelurkan konsep hegemoni sebagai sebuah hal yang
mengikat masyarakat tanpa paksaan , ketika sedang dipenjara oleh kaum Fasis Italia di
tahun 1926. Budaya adalah salah satu situs kunci tempat terjadinya perjuangan bagi
hegemoni.
Adalah BCCC, tempat cultural studies pertamakalinya berkembang. Birmingham
Centre for Contemporary Cultural Studies, biasa disingkat Birmingham Centre, berada di
Universitas Birmingham, salah satu universitas tua di Inggris. Birmingham Centre
didirikan pada tahun 1964, sebagai pusat penelitian universitas, dan dipimpin pertama
kali oleh Richard Hoggart. Ketika Hoggart meninggalkan Birmingham pada tahun 1968,
ia digantikan oleh Stuart Hall. Dibawah Hall, pada tahun 1970-an dan 1980-an,
Birmingham Centre menjadi pusat pemikiran intelektual yang paling penting di dataran
Eropa dan Amerika. Birmingham Centre mengajarkan cultural studies baik di tingkat
sarjana maupun pasca sarjana dan aktif mempromosikan penelitian di bidang ini. Hall
menerbitkan jurnal khusus yaitu Working Papers in Cultural Studies yang dipublikasikan
bekerjasama dengan Hutchinson. Selain itu, sejak tahun 1991, Birmingham Centre
mempublikasikan jurnal Cultural Studies from Birmingham, dan yang paling baru adalah
The European Journal of Cultural Studies yang diterbitkan Sage.
Sumbangan penting Birmingham Centre dalam cultural studies adalah
kepeloporannya dalam studi subkultur, suara-suara yang marjinal dari budaya dominan.
Sangat berbeda dengan yang dilakukan oleh Matthew Arnold (pelopor english studies)
yang terfokus pada konstruksi penyatuan kebudayaan nasional yang ideologinya sangat
borjuis dan eksklusif, serta bertujuan utama untuk mengkonstruksikan kebudayaan
nasional Inggris yang sesuai dengan kebijakan pemerintah Inggris. Birmingham Centre
tidak seperti itu. Studi yang terkenal dari Birmingham Centre adalah tentang ras, kelas
dan gender. Kobena Mercer mendeskripsikan studi yang dilakukan Birmingham Centre
ini dengan "the all too familiar `race, class, gender' mantra". Tema-tema yang selalu jadi
perhatian utama Hall, termasuk juga yang mewarnai kajian-kajian Birmingham Centre
adalah yang selalu berkaitan dengan kebudayaan, ideologi dan identitas. Kontribusi
pentingnya adalah ia berhasil membuat studi untuk mencari makna ideologis dari bentuk-
bentuk kebudayaan yang ada. Birmingham Centre juga adalah kelompok yang
memelopori pemakaian semiotika dalam cultural studies.
Displaying 5 of 17 pages, to read the full document please DOWNLOAD.
Tags: