Etnomusikologi Sebuah Seni dan Ilmu antara Antropologi dan Musikologi

Document Details:
  • Uploaded: November, 22nd 2015
  • Views: 152 Times
  • Downloads: 1 Times
  • Total Pages: 10 Pages
  • File Format: .pdf
  • File size: 156.45 KB
  • Uploader: Cem Emanuell
  • Category: Miscellaneous
 add to bookmark | report abuse
1
ETNOMUSIKOLOGI
SEBUAH SENI DAN ILMU
ANTARA ANTROPOLOGI DAN MUSIKOLOGI
(F. Xaveria Diah K., S.Pd., M.A.)
Pendahuluan
Berbagai persoalan tentang seni dan ilmu muncul ke permukaan karena
setiap orang ingin memiliki status tertentu yang berkaitan dengan hal itu.
Mereka „seraya berbondong-bondong‟ berlomba untuk mencari definisi tentang
seni dan ilmu. Mulai dari istilah asing, tradisional (kuno) sampai dengan
penemuan kosakata-kosakata baru dari berbagai olahan kata serta kalimat dan
hipotesis-hipotesis, mereka „rangkum‟ untuk memperoleh sebuah pengertian
tentang seni dan ilmu.
Dalam ilmu pengetahuan sosial dan humaniora yang dibedakan atas
lima pokok bahasan yaitu (1) pembahasan perbedaan antara seniman dan
ilmuwan, (2) pembahasan perbedaan antara metode-metode yang digunakan
oleh seniman dan ilmuwan, (3) pembahasan terhadap perbedaan hasil-hasil
yang diperoleh, (4) pembahasan tentang perbedaan kegiatan-kegiatan yang
dilakukan dan (5) pembahasan tentang isi wilayah sasaran yang menjadi
tujuan, menjadi acuan bagi pemberian suatu definisi terhadap seni dan ilmu.
Sekilas tentang Pengertian Seni dan Ilmu
Seni dan ilmu adalah dua hal yang berbeda. Seni dapat diartikan
sebagai suatu keahlian dalam membuat karya yang melibatkan perasaan
seseorang, dan ilmu merupakan pengetahuan seseorang tentang suatu bidang
tertentu. Namun antara seni dan ilmu dapat terjadi timbal balik yang satu sama
lainnya ternyata tidak dapat dipisahkan.
Jakob Sumarjo dalam bukunya Filsafat Seni (2000) mengatakan bahwa
seorang seniman adalah saksi kebenaran. Apabila ia jujur dengan
kesaksiannya itu, maka disebut sebagai seniman otentik, tetapi apabila dengan
kekakuannya ia tidak jujur pada dirinya sendiri maupun orang lain, maka
dianggap telah melakukan korupsi kebenaran. Ia tidak otentik dan menipu
orang lain dengan menyembunyikan kebenaran kenyataan yang diketahuinya.
Sebaliknya, apabila seorang seniman yang kehidupan sehari-harinya penuh
2
dengan korupsi dan tipu-menipu mungkin dapat disebut otentik, karena ia jujur
dalam menyatakan kebenaran yang dilihatnya.
1
Apa yang disebut seni memang merupakan suatu wujud yang terindra.
Karya seni merupakan sebuah benda atau artefak yang dapat dilihat, didengar
atau dilihat dan sekaligus didengar (visual, audio dan audio visual seperti
lukisan, musik, tari dan teater). Tetapi yang disebut seni itu berada di luar
benda seni sebab seni itu berupa nilai. Apa yang disebut indah, baik, adil,
sederhana dan bahagia itu adalah nilai. Apa yang dilihat oleh seseorang
disebut indah dapat tidak indah bagi orang lain. Seni baru ada kalau terjadi
dialog saling memberi dan menerima antar subyek seni (penanggap) dengan
obyek seni (benda seni). Dalam hal ini disebut sebagai relasi seni.
Batasan seni sendiri yang bertolak dari unsur seniman akan
memunculkan masalah ekspresi, kreasi, orisinalitas, intuisi dan lain-lain. Pada
benda seni akan menekankan pentingnya aspek bentuk, material, struktur,
simbol dan sebagainya. Publik seni akan melibatkan apresiasi, interpretasi,
evaluasi, konteks dan sebagainya. Seni bertujuan memberikan pemahaman,
bukan secara nalar, verbal tetapi secara empirik, pengalaman, penghayatan,
dan yang dapat dialami atau dihayati adalah perwujudan kualitas obyek.
2
Perbedaan seni dan ilmu antara lain seni menyangkut penghayatan
dalam sebuah struktur pengalaman estetis, sedangkan ilmu menyangkut
pemahaman rasional empiris terhadap suatu obyek ilmu. Seni menyangkut
penciptaan sedangkan ilmu menyangkut penemuan. Seni menghasilkan
sesuatu yang yang belum ada sebelumnya menjadi ada dan ilmu selalu
berdasarkan apa yang sudah ada. Pendekatan ilmu menggunakan perangkat
intelegensia, analisis dan pengamatan terhadap dunia material. Pendekatan
seni mengarahkan pandangannya pada lubuk batin manusia, disudut-sudut
yang tersembunyi dan rahasia. Seni menghadirkan kualitas pengalaman yang
unik dan spesifik seperti soal kesepian, penderitaan, kemuliaan dan
keagungan, keperkasaan, kesedihan yang jelas tak dapat dirumuskan dalam
bidang keilmuan. Dalam ilmu segalanya kuantitatif, terukur dalam parameter
tertentu.
3
1
Periksa Jakob Sumarjo, Filsafat Seni, Bandung : Penerbit ITB, 2000.
2
Jakob Sumarjo, 2000.
3
Jakob Sumarjo, 2000.
3
Antropologi, musikologi dan etnomusikologi adalah tiga bidang yang
berbeda. Namun satu sama lain saling terkait dan tidak dapat saling
memisahkan diri. Mereka yang „berkecimpung‟ di tiga bidang tersebut dapat
disebut seniman. Seniman yang memiliki konteks kerja secara spesifik. Lebih
jauh lagi, mereka akan dapat disebut ilmuwan, karena masing-masing bidang
menggunakan kata „logi‟ (dari kata logos) di belakangnya, yang berarti ilmu.
Namun trend sekarang adalah menyebut seseorang sebagai suatu profesi
dengan kata yang mengawali bidang tersebut, yaitu antropolog, musikolog dan
etnomusikolog.
Antropologi sebagai Ilmu dan Seni
Antropologi yang dikenal masyarakat saat ini adalah ilmu yang mengkaji
segala sesuatu tentang manusia, mengenai asal-usul, aneka warna bentuk
fisik, adat istiadat dan kepercayaan pada masa lampau. Masyarakat tidak
menyebutnya sebagai ilmuwan atau antropolog. Mereka lebih suka menyebut
antropolog sebagai peneliti. Hal ini karena kerja seorang antropolog lebih
banyak di lapangan, bahkan di wilayah atau daerah terpencil yang terkadang
jauh dari peradaban. Secara kronologis, ilmu antropologi adalah lebih luas dari
ilmu-ilmu yang lain. Sejarah, psikologi, sosiologi, bahkan ilmu hukum pun dapat
menjadi bagian dari ilmu antropologi.
Antropologi sebagai ilmu memiliki obyek dalam kenyataan alam dan non
alam sehingga memunculkan keseragaman, homogenitas, identitas dan
kausalitas (hukum sebab-akibat). Oleh karena itu antropologi secara spesifik
lebih memfokuskan diri ke dalam empat bidang utama, yakni (1) arkeologi,
mempelajari cara-cara penyimpulan yang didasarkan atas peninggalan-
peninggalan fisik mengenai sisa-sisa budaya langka, (2) antropologi fisik,
mempelajari aspek biologi manusia sepanjang masa, (3) antropologi linguistik,
mencari pengetahuan tentang struktur dan fungsi bahasa terhadap manusia,
dan (4) antropologi sosial dan budaya berusaha untuk mengerti mengapa
manusia bertingkah laku seperti yang dilakukan.
Dalam sudut pandang yang lain, antropologi sebagai seni merupakan
nilai hasil tindakan dari ilmu yang diterapkan. Maka masing-masing bidang
dalam antropologi tersebut memiliki pendekatan-pendekatan khusus dengan
cara tertentu untuk membahasnya. Sebagai contoh pada antropologi sosial
4
budaya, konteks sosio-budaya merupakan sumber segala nilai seni. Dari
konteks inilah manusia mempelajari seni dan memiliki gambaran ideal tentang
yang disebut seni. Dari konteks ini pula manusia menciptakan karya seni dan
menikmati, memahami dan memanfaatkan karya seni.
4
Hal ini juga berlaku bagi
arkeologi, antropologi fisik dan antropologi linguistik. Suatu obyek seperti benda
di alam, atau suatu karya dan budaya yang diciptakan manusia akan memiliki
nilai apabila mereka telah membahas dahulu latar belakang dari obyek
tersebut. Maka antropologi sebagai ilmu sekaligus juga seni akan berpengaruh
pada pembahasan mengenai bidang lain yang sejalan.
Musikologi sebagai Seni dan Ilmu
Musikologi sebagai ilmu pengetahuan yang membahas apa dan
bagaimana musik secara akademis.
5
Musikologi mengacu pada musik Barat.
Jadi teori dan istilah yang digunakan adalah milik Barat. Namun karena hal ini
diakui secara internasional, maka Indonesia pun menganut paham musik barat
dengan tujuan agar dapat berkomunikasi dengan negara-negara Barat dalam
satu bahasa musik.
Musikologi sebagai seni sudah sangat jelas maksudnya. Bahkan kata
seni sering diletakkan di depan kata musik, menjadi seni musik. Lebih dalam
lagi orang menyebutnya sebagai seni bermusik yang meliputi bagaimana musik
itu diciptakan dan bagaimana seni menciptakan musik. Seni dalam musikologi
merupakan perwujudan nyata bahwa sebuah ilmu dapat bernilai dan dianalisis.
Dalam musikologi, obyek seninya adalah karakter sebuah kualitas yang selalu
bersifat individual, unik, bebas, spontan dan ajaib, penuh pesona, kejutan,
sesuatu yang segar dan baru, seolah-olah baru dari ketiadaan.
Menurut Merriam, musikologi sebagai ilmu memiliki lima ciri pendekatan
utama yaitu (1) musikologi pada dasarnya mempelajari seni musik barat, (2)
musikologi melihat perbedaan mencolok antara seni musik dan musik primitif
berdasarkan atas ada tidaknya budaya tulis dan teori yang telah berkembang,
(3) musikologi bersifat humanistik dan mengesampingkan ilmu-ilmu
pengetahuan kecuali yang bersinggungan saja (4) pada dasarnya bersifat
historis, dan (5) obyek studi adalah musik sebagaimana adanya.
4
Periksa Jakob Sumarjo, Filsafat Seni, Bandung : Penerbit ITB, 2000.
5
Kamus Bahasa Indonesia, Tim Prima Pena, Gita Media Press.
5
Etnomusikologi sebagai bagian dari Antropologi dan Musikologi
Pada awalnya etnomusikologi memiliki pengertian sebagai gabungan
dari dua bidang ilmu yang telah mapan yaitu antropologi dan musikologi. Di
sudut lainnya etnomusikologi disebut juga sebagai ilmu musikologi komparatif.
Situasi ini ternyata menggugah kesadaran para peneliti terutama bidang ilmu
antropologi. Kemudian muncul persepsi baru bahwa etnomusikologi adalah
bagian dari ilmu etnografi. Oleh karena belum adanya kesepakatan tentang
definisi etnomusikologi, maka beberapa peneliti melakukan penelitian guna
mencari rumusan tentang etnomusikologi.
Etnomusikologi memiliki dua sisi pendekatan yaitu secara antropologis
dan musikologis.
6
Di bawah bendera etnomusikologi berbagai macam studi
mengelompok bersama, diantaranya ada yang bersifat historis, teknis dan
struktural, deskriptif, analitis. Beberapa disiplin lain yang berpengaruh dalam
etnomusikologi diantaranya sejarah, psikologi, fisika, fisiologi, sosiologi, dan
filsafat. Antropologi sosial dan budaya memiliki pengaruh besar meskipun
cabang antropologi yang lain juga memiliki andil cukup besar. Musik dibidang
antropologi dipandang sebagai aktivitas budaya.
Kegiatan yang dilakukan oleh musikolog dan antropolog maupun ilmu
pengetahuan lain, pada hakekatnya sama yakni analisis, sintesis dan reduksi
hal-hal yang praktis. Analisis meliputi pengumpulan, pemberian nama,
pengamatan dan melaporkan pengamatan secara rinci. Sintesis terjadi apabila
mencari hubungan di antara data dan teori-teori atau ketika kecenderungan,
hipotesis, teori-teori, hukum-hukum dirumuskan. Sedangkan reduksi adalah ke
arah praktis, yaitu suatu kegiatan yang mengubah pernyataan umum atau
teoritis ke pengertian khusus atau praktis, serta digunakan dalam peristiwa
tertentu. Ketiga kegiatan dilakukan baik oleh musikolog maupun antropolog
dengan perbedaan penekanan. Dalam hal ini analisis sebenarnya merupakan
hal pokok bagi antropolog dan musikolog, sedangkan sintesis lebih banyak
dilakukan oleh antropolog, dan musikolog lebih banyak melakukan reduksi ke
arah praktis. Namun sekarang ini perbedaan kegiatan tersebut sudah mulai
kabur dan tidak lagi menjadi suatu permasalahan berarti.
6
Alan P. Merriam, ‘Meninjau Kembali Disiplin Etnomusikologi,’ dlm Supanggah,
Rahayu (Ed), Etnomusikologi, Yogyakarta : Bentang Budaya. 1995 : 65
Displaying 5 of 10 pages, to read the full document please DOWNLOAD.
Tags: