Konsep Kepatuhan

Document Details:
  • Uploaded: November, 26th 2014
  • Views: 822 Times
  • Downloads: 0 Times
  • Total Pages: 14 Pages
  • File Format: .docx
  • File size: 171.37 KB
  • Uploader: juliet
  • Category: Miscellaneous
 add to bookmark | report abuse
Lampiran pertama:
KONSEP KEPATUHAN
KONSEP KEPATUHAN
Pengertian Kepatuhan
Sarfino (1990) di kutip oleh Smet B. (1994) mendefinisikan kepatuhan (ketaatan) sebagai
tingkat penderita melaksanakan cara pengobatan dan perilaku yang disarankan oleh
dokternya atau yang lain.
Kepatuhan adalah perilaku positif penderita dalam mencapai tujuan terapi (Degrest et al,
1998). Menurut Decision theory (1985) penderita adalah pengambil keputusan dan
kepatuhan sebagai hasil pengambilan keputusan.
Perilaku ketat sering diartikan sebagai usaha penderita untuk mengendalikan perilakunya
bahkan jika hal tersebut bisa menimbulkan resiko mengenal kesehatanya (Taylor, 1991).
Patuh adalah suka menurut perintah, taat pada perintah atau aturan. Sedangkan kepatuhan
adalah perilaku sesuai aturan dan berdisiplin. Seseorang dikatakan patuh berobat bila mau
datang ke petugas kesehatan yang telah ditentukan sesuai dengan jadwal yang telah
ditetapkan serta mau melaksanakan apa yang dianjurkan oleh petugas (Lukman Ali et al,
1999).
Proses perubahan sikap dan perilaku (teori Kelman)
Menurut Kelman perubahan sikap dan perilaku individu dimulai dengan tahap kepatuhan,
identifikasi kemudian baru menjadi internalisasi Mula-mula individu mematuhi anjuran
atau instruksi petugas tanpa kerelaan untuk melakukan tindakan tersebut dan seringkali
karena ingin menghindari hukuman/sanksi jika tidak patuh atau untuk memperoleh
imbalan yang dijanjikan jika mematuhi anjuran tersebut tahap ini disebut tahap
kesediaan, biasanya perubahan yang terjadi dalam tahap ini bersifat sementara, artinya
bahwa tindakan itu dilakukan selama masih ada pengawasan petugas. Tetapi begitu
pengawasan itu mengendur atau hilang, perilaku itupun ditinggalkan.
Pengawasan itu tidak perlu berupa kehadiran fisik petugas atau tokoh otoriter, melainkan
cukup rasa takut terhadap ancaman sanksi yang berlaku, jika individu tidak melakukan
tindakan tersebut. Dalam tahap ini pengaruh tekanan kelompok sangatlah besar, individu
terpaksa mengalah dan mengikuti perilaku mayoritas kelompok meskipun sebenarnya dia
tidak menyetujuinya. Namun segera setelah dia keluar dari kelompok tersebut,
kemungkinan perilakunya akan berubah menjadi perilakunya sendiri.
Kepatuhan individu berdasarkan rasa terpaksa atau ketidakpahaman tentang pentingnya
perilaku yang baru itu dapat disusul dengan kepatuhan yang berbeda, yaitu kepatuhan
demi menjaga hubungan baik dengan petugas kesehatan atau tokoh yang menganjurkan
perubahan tersebut (change agent).
Biasanya kepatuhan ini timbul karena individu merasa tertarik atau mengagumi petugas
atau tokoh tersebut, sehingga ingin mematuhi apa yang dianjurkan atau diinstruksikan
tanpa memahami sepenuhnya arti dan mamfaat dari tindakan tersebut, tahap ini disebut
proses identifikasi.
Meskipun motivasi untuk mengubah perilaku individu dalam tahap ini lebih baik dari
pada dalam tahap kesediaan, namun motivasi ini belum dapat menjamin kelestarian
perilaku itu karena individu belum dapat menghubungkan perilaku tersebut dengan nilai-
nilai lain dalam hidupnya, sehingga jika dia ditinggalkan petugas atau tokoh idolanya itu
maka dia merasa tidak perlu melanjutkan perilaku tersebut.
Perubahan perilaku individu baru dapat menjadi optimal jika perubahan tersebut terjadi
melalui proses internalisasi, dimana perilaku yang baru itu dianggap bernilai positif bagi
diri individu dan diintegrasikan dengan nilai-nilai lain dari hidupnya.
Proses internalisasi ini dapat dicapai jika petugas atau tokoh merupakan seseorang yang
dapat dipercaya (kredibilitasnya tinggi) yang dapat membuat individu memahami makna
dan penggunaan perilaku tersebut serta membuat mereka mengerti akan pentingnya
perilaku tersebut bagi kehidupan mereka sendiri.
Memang proses internalisasi ini tidaklah mudah dicapai sebab diperlukan kesediaan
individu untuk mengubah nilai dan kepercayaan mereka agar menyesuaikan diri dengan
nilai atau perilaku yang baru.Teori The Health Belief Model (Model Kepercayaan
Kesehatan)
Model kepercayaan kesehatan adalah suatu bentuk penjabaran dari teori Sosial-Psikologi,
model ini didasarkan pada kenyataan bahwa problem-problem kesehatan ditandai oleh
kegagalan-kegagalan orang atau masyarakat untuk menerima usulan-usulan pencegahan
dan penyembuhan penyakit yang diselenggarakan oleh provider.
Model kepercayaan kesehatan ini menyatakan, apabila individu bertindak untuk melawan
atau mengobati penyakitnya, ada 5 (lima) variabel kunci yang terlibat dalam tindakan
tersebut, yaitu:
Kerentanan yang dirasakan (Perceived Susceptibility)
Seseorang akan melakukan tindakan pengobatan atau pencegahan terhadap suatu
penyakit bila individu merasa rentan terhadap penyakit tersebut.
Keseriusan yang dirasakan (Perceived Seriousness)
Seseorang akan terdorong untuk melakukan tindakan pengobatan atau pencegahan
terhadap suatu penyakit oleh karena keseriusan penyakit yang dirasakannya.
Manfaat yang dirasakan (Perceived Benefits)
Seseorang akan terdorong untuk melakukan tindakan pengobatan atau pencegahan
terhadap suatu penyakit oleh karena adanya manfaat yang dirasakannya dalam
mengambil tindakan tersebut bagi penyakitnya.
Ancaman yang dirasakan (Perceived Threat)
Seseorang akan terdorong untuk melakukan tindakan pengobatan atau pencegahan
terhadap suatu penyakit oleh karena adanya ancaman yang dirasakan dari penyakitnya.
Isyarat atau petunjuk untuk bertindak (Cues to Action)
Untuk dapat meningkatkan penerimaan yang benar tentang kerentanan, kegawatan dan
keuntungan, perlu adanya isyarat atau petunjuk dari orang lain, misalnya; Media massa,
Nasehat petugas kesehatan atau anggota keluarga.
Faktor - faktor yang mempengaruhi kepatuhan
Dalam hal kepatuhan Carpenito L.j.(2000) berpendapat bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi tingkat kepatuhan adalah segala sesuatu yang dapat berpengaruh positif
sehingga penderita tidak mampu lagi mempertahankan kepatuhanya, sampai menjadi
kurang patuh dan tidak patuh. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan
diantaranya:
Pemahaman tentang instruksi.
Tidak seorang pun mematuhi instruksi jika ia salah paham tentang instruksi yang
diberikan padanya. Ley dan Spelman tahun 1967 menemukan bahwa lebih dari 60%
responden yang di wawancarai setelah bertemu dengan dokter salah mengerti tentang
instruksi yang diberikan kepada mereka. Kadang kadang hal ini disebabkan oleh
kegagalan profesional kesalahan dalam memberikan informasi lengkap, penggunaan
istilah-istilah medis dan memberikan banyak instruksi yang harus di ingat oleh penderita.
Tingkat pendidikan.
Tingkat pendidikan pasien dapat meningkatkan kepatuhan, sepanjang bahwa pendidikan
tersebut merupakan pendidikan yang aktif yang diperoleh secara mandiri, lewat tahapan-
tahapan tertentu (Feuer Stein et.al., 1986).
Singgih D. Gunarso ( 1990 ) mengemukakan bahwa semakin tua umur seseorang maka
proses perkembangan mentalnya bertambah baik, akan tetapi pada umur umur tertentu,
bertambahnya proses perkembangan mental ini tidak secepat ketika berusia belasan
tahun, dengan demikian dapat disimpulkan factor umur akan mempengaruhi tingkat
pengetahuan seseorang yang akan mengalami puncaknya pada umur umur tertentu dan
akan menurun kemampuan penerimaan atau mengingat sesuatu seiring dengan usia
semakin lanjut.Hal ini menunjang dengan adanya tingkat pendidikan yang rendah.
Kesakitan dan pengobatan.
Perilaku kepatuhan lebih rendah untuk penyakit kronis (karena tidak ada akibat buruk
yang segera dirasakan atau resiko yang jelas), saran mengenai gaya hidup dan kebiasaan
lama, pengobatan yang kompleks, pengobatan dengan efek samping, perilaku yang tidak
pantas (Dikson dkk,1989,1990, ley,1992).
Displaying 5 of 14 pages, to read the full document please DOWNLOAD.