ADAKAH PENGARUH FINANCIAL CONDITION FINANCIAL PERFORMANCE GROWTH AND RECEIVABLEINVENTORY TERHADAP PENDETEKSIAN KECURANGAN LAPORAN KEUANGAN

Document Details:
  • Uploaded: September, 22nd 2015
  • Views: 102 Times
  • Downloads: 0 Times
  • Total Pages: 21 Pages
  • File Format: .pdf
  • File size: 293.37 KB
  • Uploader: reza88
  • Category: Miscellaneous
 add to bookmark | report abuse
ADAKAH PENGARUH FINANCIAL CONDITION, FINANCIAL
PERFORMANCE, GROWTH, AND RECEIVABLE/INVENTORY
TERHADAP PENDETEKSIAN KECURANGAN LAPORAN KEUANGAN?
Hardiyana Putri Virgonia Puspitasari
Universitas Negeri Surabaya
Email: dyana_sweet90@yahoo.com
ABSTRACT
The purpose of this research is to find the influence of financial conditions,
financial performance and rapid growth is an important part in the detection of
financial statement fraud on a large scale company. This study investigated the
usefulness of annual financial reporting published in idx. This research method is
a method of associative quantitative. Binary logistic regression used
implementation of detection. Based on related research review has been
conducted, the results of this research show that a significantly impact on ROA
detection of fraudulent financial reporting in many companies.
Keywords: fraud, auditing standard, financial statement fraud, fraud detection
methods
PENDAHULUAN
Menurut Koroy, (2012) mekanisme pelaporan keuangan, suatu audit
dirancang untuk memberikan keyakinan bahwa laporan keuangan tidak
dipengaruhi oleh salah saji (misstatement) yang bisa digunakan untuk menentukan
apakah laporan keuangan telah disajikan secara wajar, sesuai dengan Prinsip
Akuntansi yang Berlaku Umum (PABU). Prinsip yang berlaku umum di
Indonesia dimuat dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang
ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI)
Menurut Harahap (1991), laporan keuangan sebenarnya banyak namun
laporan keuangan utama menurut PAI hanya 3 yaitu: 1) Daftar Neraca yang
menggambarkan posisi keuangan perusahaan pada satu tanggal tertentu 2)
Perhitungan Laba Rugi yang menggambarkan jumlah hasil, biaya dan laba/rugi
perusahaan pada suatu periode tertentu 3) Laporan Sumber dan Penggunaan Dana
Menurut Ruchyat, (1984) dimuat sumber dana dan pengeluaran
perusahaan selama satu periode. Yang sering menjadi masalah dalam laporan ini
adalah mengenai pengertian dana. Dana dapat diartikan macam-macam: 1) Dana
adalah Kas. 2) Dana adalah Aktiva Cepat (Quick Assets). 3) Dana adalah
Monetary Assets. 4) Dana adalah aktiva Lancar. 5) Dana adalah Modal Kerja
(Aktiva Lancar dikurangi Hutang Lancar). 6) Dana diartikan sebagai keseluruhan
aktiva.
Harahap (1991) mengutip Arens dan Loebbecke (1980) mendefinisikan
auditing sebagai berikut : “Auditing adalah satu set prosedur yang sesuai dengan
norma pemeriksaan akuntan yang memeberikan informasi sehingga akuntan dapat
menyatakan suatu pendapat tentang apakah laporan keuangan yang diperiksa
disajikan secara wajar sesuai dengan Prinsip Akuntansi yang berlaku”
Salah saji terdiri dari dua macam yaitu kekeliruan (error) dan kecurangan
(fraud). Fraud diterjemahkan dengan kecurangan sesuai Pernyataan Standar
Auditing (PSA) No.70, demikian pula error dan irregularities masing-masing
diterjemahkan sebagai kekeliruan dan ketidakberesan sesuai dengan PSA No. 32.
Fraud atau biasa disebut dengan kecurangan didalam perusahaan biasanya terjadi
di bidang keuangan.
Kondisi keuangan dapat didefinisikan sebagai kemampuan suatu
perusahaan untuk menyeimbangkan kebutuhan operasionalnya secara rutin sesuai
sumber pendapatan, sambil memberikan layanan secara berkelanjutan. Menurut
(Summer and Sweeney 1998 dalam Bell et al. 1991; Loebbecke et al. 1989),
buruknya kondisi keuangan akan mendorong orang-orang dalam berniat
melakukan aksi tidak baik yaitu dengan menampilkan peningkatan posisi
keuangan perusahaan, berharap dapat mengurangi ancaman kehilangan pekerjaan,
atau untuk menyimpan sumber yang tepat sebelum masa penghentian. Selain itu,
motivasi melakukan kecurangan karena buruknya kondisi keuangan menunjukkan
lemahnya pengendalian lingkungan, suatu kondisi dimana memenuhi pelaku
kecurangan (AICPA, 1997).
Ukuran subjektif perusahaan yang baik dapat menggunakan asset utama
pada bisnisnya untuk menghasilkan pendapatan. Istilah ini juga digunakan sebagai
ukuran umum dari kesehatan secara keseluruhan keuangan perusahaan selama
periode waktu tertentu, dan dapat digunakan untuk membandingkan perusahaan
sejenis di industri yang sama atau untuk membandingkan industri atau di sektor-
sektor lain (Summers dan Sweeny, 1998)
Faktor yang membedakan kecurangan dan kekeliruan adalah tindakan
yang mendasarinya, yang berakibat terjadinya salah saji dalam laporan keuangan,
berupa tindakan yang sengaja atau tidak disengaja (IAI, 2001).
Terjadinya
kecurangan merupakan suatu tindakan yang disengaja, tidak dapat terdeteksi oleh
suatu pengauditan yang memberikan efek merugikan dan cacat bagi proses
pelaporan keuangan. Adanya kecurangan berakibat serius dan membawa banyak
kerugian. Banyak perusahaan hancur sebagai akibat kurang kuatnya
pendekteksian dini terhadap tindakan kecurangan.
Kecurangan (fraud) berbeda dengan kekeliruan (errors). Kecurangan
(fraud) merupakan kesalahan penyajian yang disengaja sedangkan kekeliruan
(errors) adalah kesalahan penyajian atas laporan keuangan yang tidak disengaja.
Contoh kekeliruan (errors) adalah kesalahan dalam perhitungan harga bahan
baku. Menurut Taylor dan Glezen (1994:3) dalam bukunya “Auditing Integrated
Concept and Procedures” kekeliruan (errors) adalah salah saji dalam laporan
keuangan yang tidak disengaja (unintentional) yang meliputi: 1) Entitas pribadi
yang mungkin membuat kesalahan dalam pengumpulan data akuntansi dari
laporan keuangan yang disiapkan, 2) Entitas pribadi mungkin mengabaikan atau
salah menafsirkan perkiraan akuntansi yang tidak benar, 3) Entitas pribadi
mungkin melakukan kesalahan dalam penerapan prinsip akuntansi yang berkaitan
dengan jumlah, klasifikasi, cara penyajian, dan pengungkapan.
Menurut Wells (2005:325-327), kecurangan laporan keuangan sangat
berbahaya karena dapat menyebabkan antara lain: 1) Merusak reliabilitas,
kualitas, kematerialan dan integritas proses pelaporan keuangan, 2)
Membahayakan integritas dan obyektivitas profesi audit, terutama auditor
eksternal dan auditor internal, 3) Mengurangi kepercayaan pasar modal, seperti
halnya pangsa pasar, pada reliabilitas informasi keuangan, 4) Pasar modal menjadi
kurang efisien, dan 5) Dampak pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran nasional
menjadi kurang baik.
Untuk lebih berhasilnya peran auditor dalam pencegahan dan pendeteksian
adanya kecurangan, sebaiknya auditor perlu memahami kecurangan dan jenis-
jenis kecurangan yang mungkin terjadi dalam perusahaan. Bologna, Lindquist dan
Wells (1993:3) mendefinisikan kecurangan adalah penipuan kriminal yang
bermaksud untuk memberi manfaat keuangan kepada si penipu. Kriminal disini
berarti setiap tindakan kesalahan serius yang dilakukan dengan maksud jahat. Dan
dari tindakan jahat tersebut ia memperoleh manfaat dan merugikan korbannya
secara finansial.
SAS No. 82 mewajibkan auditor untuk secara khusus menilai risiko salah
saji yang material akibat kecurangan (yaitu faktor-faktor risiko kecurangan) dan
merancang serta melaksanakan prosedur audit untuk mengindentifikasi masalah
(Guy; Alderman dan Winters, 2002). The Panel of Audit Effectiveness (PAE)
mengatakan bahwa proses penilaian risiko dan tanggapannya menurut SAS No.
82 ini tidak efektif karena hal ini tidak “mengarahkan prosedur audit secara
spesifik terhadap pendeteksian kecurangan”.
Penaksiran faktor-faktor risiko kecurangan, auditor menggunakan
kerangka kerja dalam pelaporan keuangan yang curang sebagai berikut: a)
Karakteristik dan Pengaruh Manajemen Terhadap Lingkungan Pengendalian.
Hal ini berkaitan dengan kemampuan, tekanan, gaya dan sikap manajemen
terhadap pengendalian internal serta proses pelaporan keuangan. Sebagai contoh,
manajemen mungkin memperkerjakan staf akuntansi atau audit internal yang tidak
efektif. b) Kondisi industri. Faktor-faktor risiko ini melibatkan lingkungan
ekonomi dan peraturan-peraturan yang menyangkut usaha klien. Sebagai contoh,
klien mungkin berada dalam industry yang sedang lesu dengan tingkat rintangan
yang besar. c) Karakteristik Operasi dan Stabilitas Keuangan. Hal ini berkaitan
dengan sifat dan kompleksitas klien dan transaksinya, kondisi keuangan,
Displaying 5 of 21 pages, to read the full document please DOWNLOAD.