Tugas Kebudayaan Indonesia Wujud Kebudayaan

Document Details:
  • Uploaded: September, 16th 2015
  • Views: 65 Times
  • Downloads: 0 Times
  • Total Pages: 3 Pages
  • File Format: .pdf
  • File size: 82.01 KB
  • Uploader: amanda
  • Category: Miscellaneous
 add to bookmark | report abuse
Nama: Chris Tria Wati Girsang
Nim : 13/348097/FI/03802
A Wujub Kebudayaan fisik
Ada 3 wujub kebudayaan menurut Koentjaranigrat(1970: 186-187).
Pertama wujub kebudayaaan ide, gagasan, nilai atau norma. Kedua wujub
kebudayaan aktifitas atau pola tindakan manusia dalam masyarakat. Ketiga
adalah wujub kebudayaan sebagai benda benda hasil karya manusia yang bisa
dilihat sampai tidak bisa di lihat oleh mata.
A.1. Wujub kebudayaan yang pertama
1. Ide /gagasan
Suatu pola pikir, contoh wujud kebudayaan dari gagasan pada masyarakat
yogyakarta ialah mempercayai adanya hal hal yang berbau mistis,seperti
mempercayai benda benda pusaka, makna motif batik dan lain lainnya
2. Norma
Norma orang jawa jauh lebih baik, Norma berbicara lebih lembut, norma
berpakaian juga lebih sering di pakai walaupun tidak pada waktu tertentu saja.
Contoh norma bicara: jangan main main ke jalan nanti bahaya (jawa)
Main lah kau ke jalan sana biar mampus kamu (batak)
B.1. Wujub kebudayaan fisik yang kedua
1. Aktifitas atau Pola tindakan manusia
Kegiatan/tindakan yang di lakukan masyarakat. contoh wujud
kebudayaan dari aktifitas pada masyarakat Batak manurduk dayok nabinatur,
mamboan indahan hu rumah ni tondong.
C.1. Wujub kebudayaan fisik yang ketiga
1. Hasil karya manusia
Hasil budaya : berupa suatu peninggalan,hasil karya/benda/fisik. contoh
wujud kebudayaan dari hasil budaya pada masyarakat Batak gendang, ulos, dan
jabu bolon.
B. Sistem Sosial.
Sistem Sosial menurut Ankie M.M. Hoogvelt Sistem sosial harus mampu
menyesuaikan diri dengan lingkungan yang dihadapi. Mampu menyesuaikan
dengan tujuan sosial yang lebih besar agar tidak bertentangan dengan tujuan-
tujuan lingkungan sosial dan Menunjukkan adanya solidaritas sosial dari
bagian-bagian yang membentuknya serta berperannya masing-masing unsure
tersebut sesuai dengan posisinya. Integrasi hanya bias terwujud jika semua
unsure yang membentuk sistem tersebut saling menyesuaikan.
Contoh: Seorang pemuda harus bisa menyesuaikan diri dimana dia beranjak dan
melakukan segala aktifitas sewajarnya.
C. Sistem Budaya/ Nilai
1. Seputar Masalah Nilai
Nilai perlu dibedakan antara “objek bernilai”,manusia yang
menilai”,klaim penilaian:, dan nilai sebagai konsep ukuran”. Konsep ukuran
dalam hal ini menyangkut masalah baik-buruk, indah-jelek, adil-lalim, patut-
tidak patut, dan sebagainya. Dengan adanya nilai sebagai konsep ukuran ini
memungkinkan manusia melakukan penilaian atas objek yang dihadapinya.
Dalam melakukan penilain dasarnya manusia tengah menerapkan konsep
ukuran atas objek bernilai. Atau dengan kata lain, ia tengah mencocokan
objek bernilai dengan konsep bernilai dengan konsep ukuran yang dipahami
atau diyakininya. (Buku Jangan tangisi Tradisi) by: Johannes Mardimin.
moral termasuk bagian dari kebudayaan, yaitu standar tentang baik dan buruk,
benar dan salah, yang kesemuanya dalam konsep yang lebih besar termasuk ke
dalam ‘nilai’. Hal ini di lihat dari aspek penyampaian pendidikan yang
dikatakan bahwa pendidikan mencakup penyampaian pengetahuan,
keterampilan, dan nilai-nilai.
Kedudukan nilai dalam setiap kebudayaan sangatlah penting, maka pemahaman
tentang sistem nilai budaya dan orientasi nilai budaya sangat penting dalam
konteks pemahaman perilaku suatu masyarakat dan sistem pendidikan yang
digunakan untuk menyampaikan sisitem perilaku dan produk budaya yang
dijiwai oleh sistem nilai masyarakat yang bersangkutan.
Sistem nilai budaya ini merupakan rangkaian dari konsep-konsep abstrak
yang hidup dalam masyarakat, mengenai apa yang dianggap penting dan
berharga, tetapi juga mengenai apa yang dianggap remeh dan tidak berharga
dalam hidup. Sistem nilai budaya ini menjado pedoman dan pendorong perilaku
manusia dalam hidup yang memanifestasi kongkritnya terlihat dalam tata
kelakuan. Dari sistem nilai budaya termasuk norma dan sikap yang dalam
bentuk abstrak tercermin dalam cara berfikir dan dalam bentuk konkrit terlihat
dalam bentuk pola perilaku anggota-anggota suatu masyarakat.
Tylor dalam Imran Manan (1989;19)
Tags: