Paper Ekonomi Regional Relokasi Industri Dalam Pengembangan Wilayah

Document Details:
  • Uploaded: June, 14th 2015
  • Views: 198 Times
  • Downloads: 1 Times
  • Total Pages: 7 Pages
  • File Format: .docx
  • File size: 589.15 KB
  • Uploader: amanda
  • Category: Miscellaneous
 add to bookmark | report abuse
Paper Ekonomi Regional - Relokasi Industri Dalam Pengembangan
Wilayah
Oleh :
-
Email : evalatifahpuspitasari@yahoo.com
FAKULTAS GEOGRAFI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2013
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Negara berkembang merupakan negara yang mempunyai standar hidup yang
relatif rendah dari berbagai macam sektor. Human Development Index di negara
berkembang juga bisa dikatakan rendah. Contoh negara-negara berkembang di dunia
pada umumnya terdapat di Afrika, Amerika Tengah, dan Laut Karibia, termasuk juga
Negara Arab dan Asia Tenggara. Untuk Negara Berkembang yang mulai bergerak di
bidang indistri dapat dicontohkan seperti Negara Argentina, Brasil, Meksiko, China,
Singapura, Korea Selatan, Spanyol, dan Portugal
(negaramajudanberkembang.blogspot.com).
Menurut Michael Todaro (Economic Development, 2000) mengklasifikasikan
ciri-ciri Negara berkembang adalah : 1) Tingkat kehidupan rendah. 2) Tingkat
produktivitas rendah. 3) Pertumbuhan populasi dan beban tanggungan yang tinggi. 4)
Tingkat pengangguran dan pengangguran semu yang tinggi. 5) Ketergantungan yang
sangat terhadap produksi pertanian dan produk-produk pokok ekspor. 6) Dominasi,
dependensi dan vulnerabilitas (sifat mudah tersinggung/ terpengaruh) dalam hubungan
internasional.
Kondisi-kondisi di negara berkembang tersebut mendesak permintaan akan
barang dan jasa yang tinggi untuk menarik perusahaan global untuk menanamkan
strategi relokasi demi efisiensi. Di masa datang kecenderungan akan relokasi akan
berlanjut menuju China mengingat Negara tersebut merupakan Negara yang biaya
tenaga kerja (buruh) rendah. Kemudian nantinya relokasi industri akan dilanjutkan
oleh perusahaan yang ada di Amerika Serikat dan Jepang yang akan memindahkan
kegiatan esembling mereka di Negara-negara seperti di Asia Tenggara dan China.
Nantinya, negara berkembang akan menjadi persaingan yang berat di dunia. negara
berkembang mempunyai daya tarik sebagai penerima dan pengguna kapital yang
berasal dari sumber dana global.
Kegiatan industri tentunya jika dilaksanakan di suatu wilayah mempunyai
dampak yang positif dan negatif bagi wilayahnya dan wilayah sekitarnya. Dampak
positif yang ditimbulkan oleh kegiatan industri tersebut tentunya lebih menjurus ke
arah yang sifatnya mendukung perkembangan wilayah tersebut dari segi ekonomi dan
mendukung kesejahteraan rakyatnya, serta menambah pendapatan per kapita suatu
wilayah atau negara. Sedangkan dampak negatif yang ditimbulkan harus diminimalisir
dan dihindari. Dampak relokasi bagi suatu negara, khusunya negara berkembang yaitu
antara lain dapat merubah struktur ekonomi suatu negara. Banyak Negara-negara yang
berpendapatan kapitanya rendah, masih mengimpor beberapa bahan baku atau bahan
setengah, tetapi untuk konsumsi masayarakatnya sendiri terhadap barang import
dinilai masih rendah, sehingga hal biaya impor dan pendapatan dinilai masih belum
sesuai.
B. MASALAH
Keterkaitan negara berkembang antara satu dengan yang lain merupakan hal
yang tidak bisa dipungkiri dalam urusan bisnis ataupun ekonomi. Hanya saja, peluang
bisnis dan ekonomi di Negara berkembang dapat bergerak di bidang apa saja misal
dalam penegembangan pariwisata, pembukaan perusahaan franchise, ataupun
pembelian merk atau brand ternama oleh beberapa perusahaan untuk dijual kembali.
Perusahaan global dunia seperti yang ada di Negara-negara di Eropa sudah mulai
merelokasi beberapa Negara berkembang yang akan dijadikan lahan bisnis nantinya.
Hal ini tentunya akan berdampak bagi negara berkembang yang dijadikan
relokasi industri oleh perusahaan global dunia, khususnya jika nantinya mereka akan
melirik Indonesia yang akan dijadikan negara seperti Singapura dalam hal bisnis.
Masalahnya di sini dalah apakah nantinya Indonesia sudah siap jika menjadi negara
relokasi industri? Kalaupun sudah, apakah nantinya Indonesia dapat mengatasi
masalah yang berkaitan dengan hal tersebut?
C. TUJUAN
Tujuan dari penulisan paper ini adalah untuk mengetahui fungsi Negara
Berkembang menjadi salah satu relokasi industri dunia.
BAB II
ISI
Proses relokasi industri perusahaan di dunia ke negara berkembang masih akan
berlanjut sampai dengan akhir abad ke-21 (businessenvironment.wordpress.com).
Perusahaan global sangat mudah memindahkan lokasi usaha mereka untuk mencari
lokasi yang dapat memberikan biaya relatif faktor produksi yang lebih rendah
dibandingkan dengan alternatif lokasi lainnya. Kecenderungan ini diperkuat oleh
berbagai perubahan inovasi teknologi, sistem kelembagaan internasional dan politik
ekonomi dari sebagian besar negara di dunia, sehingga modal dan teknologi sebagai
komponen faktor produksi menjadi lebih mudah berpindah dari negara maju ke negara
sedang berkembang. Sebaliknya dibandingkan dengan dua faktor produksi tersebut,
faktor produksi tenaga kerja menjadi lebih sulit dipindahkan secara relatif dari satu
negara ke negara lainnya.
Mengantisipasi kedatangan perusahaan global di masa depan kita tidak dapat
lagi mengandalkan hanya pada keunggulan biaya buruh yang relatif rendah karena
kenyataan masih adanya faktor dominan lainnya yang mempengaruhi relokasi.
Pemikiran lainnya atas pentingnya penyediaan akses kapital dan teknologi di dalam
negeri untuk menarik investasi asing sudah menjadi trend lama di masa datang. Kedua
komponen faktor produksi tersebut akan dengan mudah dipindahkan oleh perusahaan
global dari negara maju ke berbagai alternatif tempat lokasi di dunia.
Beberapa contoh kasus di Negara Berekembang yang berasal dari industri
Negara kita sendiri contohnya, PT. Freeport di Papua. PT. Freeport ini beroperasi dari
tahun 1967 dan sampai sekarang. Dewasa ini, PT. Freeport yang merupakan suatu
industri yang bergerak di bagian pertambangan telah menimbulkan dampak Hancurnya
Gunung Grasberg. Selain itu, tercemarnya Sungai Aigwa juga merupakan dampak
negatif lain, dan masih banyak lagi. Di Jawa jika kita telaah lagi, juga banyak industri-
industri yang telah mencemari lingkungan. Contohnya, Pabrik yang ada di Sungai
Cikijing selama puluhan tahun, beberapa pabrik di Surabaya yang membuang limbah
sampah di sungai, serta lumpur Lapindo yang meluap dan telah menenggelamkan
ratusan rumah. Masalah-masalah yang ditimbulkan ini tentunya sangat
bertolakbelakang terhadap kesiapan kita untuk menerima relokasi industri dari
perusahaan global di dunia. Mungkin, banyak sekali produk-produk ternama dari luar
negeri yang sudah menjadi ambassador brand di Negara kita, tetapi sebenarnya
masalah atau dampak negatif yang ditimbulkan tidak hanya berkaitan terhadap
lingkungan di Negara kita sendiri saja, tetapi juga dapat mengubah pola hidup yang
dapat dihubungkan dengan psikologis masayarakat kita sendiri. Budaya konsumtif
tentunya mulai meracuni masyarakat kita dalam persaingan global itu sendiri.
Walaupun begitu, bagi Indonesia sendiri, Ia mempunyai daya tarik sebagai Negara
relokasi industri bagi perusahaan asing di Asia Tenggara. Masalah bagi Indonesia
sendiri mengenai hal yang berhubungan dengan relokasi industri sendiri sebenarnya
juga banyak manfaatnya, diantaranya, menambah lapangan pekerjaan, meningkatkan
devisa negara, meningkatkan pendapatan perkapita, meningkatkan manfaat bahan
baku, kemudahan dalam mencari modal, dan terjadi alih teknologi. Jangan karena
tergiur dengan manfaat yang negara kita akan dapatkan nantinya, tetapi kita harus
memikirkan bagaimana dampak negatif yang mungkin tidak secara langsung dirasakan
bagi negara kita. Sedangkan, manfaat bagi negara yang telah maju yang menjadikan
negara berkembang menjadi relokasi industri mereka antara lain, mengurangi polusi di
negara mereka, biaya buruh atau tenaga kerja murah, mendapatkan modal yang lebih
murah, memperluas pasar, dan bahan baku dapat dengan mudah diperoleh.
Hal yang terpenting perlu dipersiapkan oleh Pemerintah dan dunia usaha
domestik adalah menciptakan stabilitas ekonomi makro dalam jangka panjang dengan
menghilangkan sumber kemungkinan instabilitas-instabilitas lainnya. Pemusatan
rencana mengenai kebijakan ekonomi pada skala daerah untuk menarik industri global
sudah perlu segera dilaksanakan, antara lain dengan melanjutkan program
pengembangan infrastruktur secara terarah dan terpadu dengan kebijakan
pengembangan industri nasional.
Berbagai faktor yang dapat menghambat arus barang dan jasa dari lokasi input
material sampai ke pasar luar negeri perlu segera dikurangi. Demikian pula
pengembangan sumber daya manusia yang terdidik dan terampil dalam bidang industri
manufaktur serta pembinaan pengusaha domestik yang memiliki wawasan global dan
kemampuannya sebagai pemasok global segera harus di mulai jika kita ingin
memanfaatkan kehadiran relokasi industri pada era liberalisasi perdagangan dan
investasi.
Displaying 5 of 7 pages, to read the full document please DOWNLOAD.
Tags: