HANDOUT Presentasi Kelompok Kecil East Asian Model Pasca Krisis Bayu

Document Details:
  • Uploaded: June, 9th 2015
  • Views: 178 Times
  • Downloads: 0 Times
  • Total Pages: 5 Pages
  • File Format: .docx
  • File size: 410.13 KB
  • Uploader: Zulfikar Bayu
  • Category: Miscellaneous
 add to bookmark | report abuse
Zulfikar Bayu Poernomo
Handout East Asian Dev. State Model
Ekonomi Politik Gobal
Masa Depan East Asian Model Pasca Krisis
Pendahuluan
Krisis finansial yang dialami oleh negara-negara Asia Timur dan Tenggara diawali
oleh instabilitas perekonomian Thailand akibat excessive leveraging. Pada tahun 1980an,
perusahaan-perusahaan swasta Thailand mendapatkan keuntungan atas tren stabilitas
perekonomian negara dengan melakukan leveraging
1
besar-besaran ke bank. Pertumbuhan
rata-rata Thailand sebesar 9% per tahun membuat bank-bank percaya bahwa perusahaan
debitur Thailand mampu mengembalikan dana pinjaman tersebut. Masalah barulah muncul
ketika masa jatuh tempo pembayaran datang. Perusahaan-perusahaan debitur tidak mampu
memenuhi kewajibannya untuk mengembalikan utang, dan pinjaman tersebut terus
terakumulasi. Pada tahun 1996, hedge fund Amerika Serikat, Quantum Fund yang dipimpin
oleh George Soros, melakukan hedging
2
dengan menarik investasinya dari Thailand. Hal ini
memicu tingginya permintaan mata uang Dollar, dan berdampak pada merosot tajamnya nilai
tukar Bath terhadap Dollar; nilai Bath tahun1985-1997 ada dikisaran 25 Bath per US$. Pada
Agustus 1997, IMF mengucurkan dana bantuan bailout sebesar 3,9 miliar US$ kepada
Thailand dan membuat nilai Bath turun drastis sampai 56 Bath per US$. Ketidakmampuan
perusahaan-perusahaan swasta Thailand dalam membayar utangnya diperparah oleh
melemahnya nilai tukar Bath terhadap Dollar. Krisis finansial di Thailand menyebabkan
Produk Domestik Bruto negara ini turun sebanyak 12%. Krisis ini juga membuat Perdana
Menteri Thailand, Chavalit Yongchaiyudh, dipaksa pensiun lebih awal. Dimulailah krisis
finansial Asia 1997. Tidak hanya negara berkembang seperti Thailand, Indonesia, Malaysia,
dan Filipina, yang mengalami krisis finansial 1997, negara-negara East Asian Model seperti
Korea Selatan, Singapura, Taiwan dan Hong Kong yang notabennya berperekonomian mapan
turut terjangkit krisis juga. Krugman dan Corsetti berpendapat bahwa krisis terjadi karena
1
Leveraging
dalam bidang perekonomian
adalah
pengajuan kredit usaha besar-besaran ke pemilik
modal; seperti bank-bank di negara maju. http://en.wikipedia.org/wiki/Leverage_%28!nance%29
2
Hedging
adalah metode investasi beresiko tinggi yang dilakukan spekulan di pasar saham;
seperti menggunakan dana pinjaman untuk berinvestasi.
http://www.investopedia.com/terms/h/hedgefund.asp
faktor moral hazard induced investiment.
3
Moral hazard terjadi karena ada asumsi bahwa
pemerintah selalu siap menjamin ataupun membantu perusahaan swasta yang bermasalah.
Haggard memaparkan tiga pemikiran mengenai penyebab terjadinya Krisis 1997;
fundamentalist, internationalist dan new fundamentalist.
4
Menurut kaum fundamentalist,
krisis disebabkan permasalahan ekonomi makro negara dan mismanajemen terhadap nilai
tukar mata uang. Kaum internationalist menekankan pada lesunya dinamika pasar dunia
tindakan para spekulan. New fundamentalist berpendapat, krisis disebabkan oleh regulasi dan
permasalahan struktural, terutama di sektor keuangan.
Dampak Krisis
Kebijakan di sektor perbankan Korea Selatan membuat salah satu negara East Asian
Model ini merasakan dampak krisis juga. Sebelum krisis, perusahaan-perusahaan besar disana
melakukan ekspansi besar-besaran dengan cara meminjam modal ke bank. Para Chaebol
tersebut gagal memenuhi target profit dan pada akhirnya tidak mampu memaintain likuiditas
perusahaan. Akhirnya banyak kasus ‘gali lubang tutup lubang’, salah satunya dialami
perusahaan pembuat kendaraan bermotor terbesar ketiga di Korea Selatan, KIA Motors.
Perusahaan tersebut meminjam dana ke pihak lain untuk membayar pinjaman yang sudah
jatuh tempo. Karena permasalahan likuiditas perusahaan, KIA Motors akhirnya diakuisisi
oleh Hyundai Motor, hal serupa terjadi juga pada Daewoo Motors yang dijual ke perusahaan
Amerika Serikat, General Motors. Pada 7 November 1997, pangsa pasar saham Korea
Selatan melemah 4%, dan pada 8 November 1997, terjadi penurunan lagi sebesar 7%. Masih
pada bulan itu juga, pangsa pasar saham di negara ini turun lagi 7,2%. Hal ini direspon IMF
dengan meminta Korea Selatan memperbaiki kebijakan ekonomi makronya dan mereformasi
kebijakan perbankan. Krisis yang dialami Korea Selatan saat itu membuat mata uang Won
melemah sampai 1,700 Won per US$; yang asalnya dari 800 Won per US$. Meskipun begitu,
dengan bantuan suntikan dana dari IMF, Korea Selatan mampu mengatasi dampak jangka
pendek krisis, memperbaiki kebijakan perbankannya dan, dalam kurun waktu satu dekade
pasca krisis, Korea Selatan mampu meningkatkan pendapatan perkapita sebesar tiga kali lipat
menjadi 25,000 US$.
3 Derlianov.
Ekonomi Politik
. p. 179
4 Haggard, Stephan.
The Political Economy of the Asian Financial Crisis
. p. 4
Hong Kong ikut merasakan krisis finansial 1997 meskipun tidak besar dampaknya.
Pada saat itu cadangan devisa Hong Kong menyelamatkan Daerah Administrasi Khusus
tersebut dari pinjaman luar negeri yang berlebihan. Hong Kong Monetery Authority (HKMA)
mengambil kebijakan untuk membeli saham perusahaan swasta dengan menggunakan
cadangan devisa yang dimiliki; lebih dari 80 miliar US$. Kebijakan tersebut dilakukan untuk
menangkal aksi para spekulan di pasar saham. Hong Kong menghabiskan dana kurang lebih
15 milliar US$ untuk membeli saham perusahaan-perusahaan swasta yang bangkrut akibat
krisis. Akibat krisis, Taiwan memutuskan untuk memberlakukan system free-floating
terhadap mata uangnya, hal ini memicu spekulan-spekulan pada sektor keuangan yang
diawali dengan peningkatan suku bunga yang sangat tinggi dan diikuti dengan penjualan
besar-besaran stok saham pasar modal dan pada akhirnya menyebabkan krisis pasar modal di
negara tersebut. Berbeda dengan Hong Kong, pemerintah Singapura tidak melakukan
kebijakan langsung untuk mengintervensi pasar modal. Singapura lebih memilih untuk
mengambil kebijakan di sektor fiskal dengan mengurangi dan menunda pembangunan
infrastruktur. Kurang dari satu tahun perekonomian Singapura kembali normal.
Respon Terhadap Krisis
Negara-negara Asia Timur dan Tenggara terdampak krisis yang tidak memiliki
cadangan devisa yang cukup untuk mengatasi krisis meminta bantuan kepada IMF; hanya
Malaysia saja yang tidak meminjam dana dari IMF untuk mengatasi krisis; negara tersebut
lebih memilih untuk meregulasi kebijakan fiskalnya dengan cara menunda pembangunan
infrastruktur. Tidak hanya meminjamkan dananya, IMF juga meminta negara peminjam
untuk menandatangani Letter of Intent (LOI) yang isinya adalah kesediaan negara untuk
melakukan penyesuaian kebijakan ekonomi. Terdapat 4 aspek utama terkait penyesuaian
perekonomian negara dalam LOI tersebut, yaitu: 1. pembenahan struktur ekonomi makro, 2.
liberalisasi dan optimalisasi mekanisme pasar, 3. pembenahan kebijakan moneter, dan 4.
pembenahan sektor fiskal dan finansial. Menurut Stiglitz, IMF gagal menanggulangi krisis.
Kebijakan IMF terhadap negara-negara peminjam dana talangan di Asia Timur dan Tenggara
masih dipengaruhi oleh krisis Amerika Latin 1980an. Permasalahan krisis ada pada struktur
finansial dan bukan ekonomi makro-nya. Stiglitz menyatakan bahwa akar permasalahan
antara Krisis Asia dan Amerika Latin berbeda. Untuk krisis yang terjadi di Asia sebenarnya
lebih disebabkan oleh perilaku excessive leveraging pihak swasta. Sedangkan pemerintahnya
sendiri sudah dalam kondisi yang stabil; ditandai dengan surplus perdagangan dan inflasi
yang tergolong rendah. Disinilah kesalahan IMF; ‘meminta’ penyesuaian kebijakan
perekonomian kepada negara peminjam dana. Stiglitz mengemukakan bahwa permasalahan
yang terjadi di Asia Timur adalah masalah insufficient demand, sedangkan untuk di kawasan
Amerika Latin adalah excess demand.
5
Bagaimana masa depan ‘East Asian Model’ pasca krisis? Apakah krisis ekonomi yang
melanda kawasan Asia Timur menandai kebangkrutan ‘East Asian Model’?
Dua aspek harus diperhatikan dari krisis finansial ini; aspek jangka pendek dan jangka
panjang. Respon yang dilakukan oleh pemerintah dalam menentukan kebijakan moneter dan
fiskal serta penggunaan bantuan pinjaman dana dari IMF maupun negara lain untuk
meredam spekulasi di pasar modal ataupun sebagai insentif dana bailout bagi perusahaan-
perusahaan swasta mampu meminimalisir dampak jangka pendek krisis. Untuk jangka
panjang, tantangan terbesar pemerintah adalah mengembalikan kepercayaan publik.
6
Selain
itu, imbas yang harus ditanggung pemerintah dari pinjaman dana talangan adalah utang luar
negeri; terutama begi negara-negara yang secara masif meminjam dana talangan untuk
mengatasi krisis. Meskipun dampak jangka panjang krisis tersebut sulit dinormalisasi,
negara-negara terdampak krisis tersebut mampu mengelola hutang luar negerinya dan secara
bertahap mengembalikan kepercayaan publik. Dengan kebijakan dan bantuan dari IMF,
negara-negara East Asian Model mampu pulih dari krisis.
Di satu sisi krisis finansial ini membuat perekonomian negara-negara Asia Timur dan
Tenggara ini terpuruk, namun di sisi lain krisis ini memberi dampak positif bagi masa depan
negara-negara tersebut. Di Asia Tenggara, inisiatif terhadap regionalisme meningkat. Salah
satu organisasi regional yang diperkuat adalah ASEAN. Organisai regional ini dikembangkan
lagi menjadi ASEAN +3, dimana keanggotaannya ditambah 3 negara Asia Timur yaitu
Jepang, China, dan Korea Selatan. Negara-negara ASEAN +3 ini melakukan langkah-
langkah taktis untuk mendorong kerjasama moneter, contohnya adalah Persetujuan Chiang
5 Stiglitz, Joseph E.
The East Asia Crisis: How IMF Policies Brought the World to the Verge of a
Global Meltdown.
p. 104
6 Kepercayaan publik baik itu antar pemerintah, pemilik modal, perbankan, perusahaan swasta
dalam negeri, dan luar negeri. Lihat: Wade, Robert.
The Asian Debt-and-Development Crisis of
1997-?: Causes and Consequnces.
p. 1548
Mai Initiative (CMI).
7
Persetujuan ini merupakan inisiatif kerangka kerja negara ASEAN+3
dengan tujuan menjalin hubungan Bilateral Swap Arrangement (BSA) di antara negara-
negara ASEAN+3. Perjanjian ini dimaksudkan untuk mengembangkan jaringan kerjasama
dalam rangka menghadapi krisis keuangan di masa mendatang.
Daftar Referensi
Anonymous. 2000. East Asia: Recovery and Beyond. US: the World Bank
Barro, Robert. J. 2001. Economic Growth in East Asia Before and After the Financial Crisis.
US: National Bureau of Economic Research
Deliarnov. 2006. Ekonomi Politik. p. 177-199. Diakses melalui: https://books.google.co.id
Haggard, Stephan. 2002. The Political Economy of the Asian Financial Crisis.
Radelet, Steven dan Jeffrey D Sachs. 1998. The East Asian Financial Crisis: Diagnosis,
Remedies, Prospects. Dalam: Brookings Papers on Economic Activity. Harvard
Institute for International Development
Stiglitz, Joseph E, 2002. The East Asia Crisis: How IMF Policies Brought the World to the
Verge of a Global Meltdown.
Wade, Robert. 1998. The Asian Debt-and-Development Crisis of 1997-?: Causes and
Consequnces. Dalam: World Development. UK: Elsevier Science. Ltd
7 Ayuningtyas, Amalia.
Kajian Empiris Integrasi Ekonomi Asean+3 : Analisis Pertumbuhan Ekonomi
dan Konvergensi Kurs
. http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/11211?show=full
Tags: