Tugas Ujian Akhir Metodologi Penelitian Sosial Rancangan Penelitian Kualitatif Kesiapan Sektor Manufaktur Indonesia Menghadapi ASEAN Economic Community 2015 Tinjauan Ekonomi Politik

Document Details:
  • Uploaded: May, 26th 2015
  • Views: 90 Times
  • Downloads: 1 Times
  • Total Pages: 3 Pages
  • File Format: .docx
  • File size: 329.31 KB
  • Uploader: amanda
  • Category: Miscellaneous
 add to bookmark | report abuse
Tugas Ujian Akhir Metodologi Penelitian Sosial Rancangan Penelitian Kualitatif -
Kesiapan Sektor Manufaktur Indonesia Menghadapi ASEAN Economic
Community 2015 - Tinjauan Ekonomi Politik
Oleh:
-
Daya saing sektor manufaktur Indonesia pada tahun 2005 menempati urutan ke-46
dan berada dibawah Singapura diurutan pertama, Malaysia urutan ke-16, Thailand diposisi
ke-25, serta Filipina diposisi ke-30. Perlu diakui memang, bahwa sektor manufaktur
merupakan sektor paling penting bagi Indonesia yang berkontribusi sebagai penggererak
ekonomi nasional. Pemerintah Indonesia sendiri mengakui dalam Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional 2004-2009, bahwa sektor manufaktur adalah motor bagi
pertumbuhan ekonomi. Dalam RPJMN 2004-2009, pemerintah juga mengakui bahwa daya
saing sektor manufaktur Indonesia kalah dengan 4 negara-negara ASEAN yang telah
disebutkan. Realitas empiris memperlihatkan dengan sangat jelas betapa terpuruknya kinerja
industri manufaktur Indonesia selama periode 2004-2009. Kondisi ini terbukti dari peringkat
daya saing sektor industri manufaktur Indonesia berdasarkan Competitiveness Industrial
Performance (CIP) yang dikembangkan oleh United Nations Industrial Development
Organization bahwa kinerja ekspor Indonesia dilaporkan mengalami penurunan dari
peringkat 38 ditahun 2000 menjadi urutan 46 di tahun 2005. Kondisi ini memang patut
disayangkan, mengingat pentingnya sektor manufaktur dalam perekonomian dan kinerja daya
saing industri manufaktur keempat negara ASEAN, Filipina, Malaysia, Thailand dan
Singapura, yang tetap bertahan pada posisi yang stabil pada periode yang sama. Berdasarkan
indeks CIP 2000-2005, Singapura berada pada peringkat teratas. Meskipun mengalami
penurunan dari peringkat 13 menjadi 16, Malaysia tetap berada pada posisi yang lebih tinggi
dibanding Indonesia, disusul Thailand yang mengalami peningkatan dari posisi 26 menjadi
25 dan Filipina yang tetap stabil bertahan pada peringkat ke-30.
Mengingat sektor manufaktur ini sebagai salah satu andalan ekspor Indonesia, maka
berbagai upaya dilakukan untuk membangun sektor industri ini. Dalam RPJMN 2004-2009,
pemerintah telah menentukan arah kebijakan dalam berbagai bentuk seperti landasan
ekonomi makro yang kuat untuk meningkatkan kinerja daya saing manufaktur, peningkatan
sumber daya manusia di bidang manufaktur dan intervensi langsung pemerintah secara
fungsional dalam bentuk investasi dan layanan publik.
Namun, sepertinya berbagai upaya tersebut belum cukup mampu mendongkrak kinerja serta
daya saing industri manufaktur Indonesia. Hal ini terbukti dari kegagalan pemerintah
Indonesia melalui arah kebijakan tersebut, untuk meningkatkan kinerja pertumbuhan dan
daya saing industri manufaktur sebagai motor penggerak perekonomian. Selama periode
1998 sampai dengan 2009, industri manufaktur tidak memperlihatkan pertumbuhan yang
signifikan, bahkan terjadi kecenderungan penurunan Ini ditunjukan oleh tabel dibawah ini :
Pertumbuhan Industri Pengolahan Indonesia
1996-2009
Sumber: Berdasarkan indikator makroekonomi dalam Laporan
Perekonomian
Indonesia Bank Indonesia tahun 1996 sampai 2009.
Menjadi suatu hal yang menarik jika kenyataan pahit kinerja sektor manufaktur
Indonesia dikaitkan dengan kesiapan sektor tersebut mengahadapi diberlakukannya ASEAN
Economic Community (AEC) 2015. Semangat AEC adalah pembentukan pasar tunggal
ASEAN dimana barang, jasa, dan tenaga kerja terampil bebas bergerak. Arus bebas tidak
hanya berarti penghapusan tarif, melainkan harus sekaligus pula berarti penghapusan
rintangan non-tarif.
1
Hal ini menuntut persaingan ketat diantara negara-negara anggota
ASEAN guna menciptakan produk-produk yang memiliki daya saing dan kualitas tinggi
terutama produk-produk manufaktur. Arus produk manufaktur yang bergerak bebas sangat
penting untuk mempromosikan ASEAN sebagai landasan produksi tunggal. Oleh sebab itu,
negara-negara anggota ASEAN berlomba-lomba dalam meningkatkan keunggulannya dalam
sektor ini.
Setidaknya ada beberapa sekenario yang menggambarkan kondisi sektor manufaktur
Indonesia dalam ASEAN Economic Community 2015, jika keadaan terpuruk ini masih
dialami Indonesia.
2
Pertama, dalam masyarakat ekonomi ASEAN, Indonesia akan sulit
menembus pasar keempat negara ASEAN (Singapura, Malaysia, Thailand dan Filipina)
karena daya saing mereka jauh diatas Indonesia. Kedua, Indonesia juga akan mengalami
kesulitan memperebutkan pasar negara ASEAN lain yang sektor manufakturnya kurang baik,
karena harus bersaing dengan empat negara ASEAN dengan manufaktur kuat. Ketiga, bahkan
untuk mempertahankan pasar dalam negeri, Indonesia akan mengalami kesulitan, dengan
membanjirnya produk manufaktur empat negara ASEAN yang memiliki daya saing tinggi.
Dari identifikasi masalah diatas, penulis mencoba menentukan letak problematis dari
penelitian ini. Menjadi sebuah anomali ketika sektor andalan Indonesia berupa industri
manufaktur memiliki daya saing rendah padahal sebelumnya pemerintah telah melakukan
berbagai upaya meningkatkan kinerja sektor ini. Apabila keadaan ini terus berlangsung,
sangat menyedihkan jika sektor manufaktur dipaksa menghadapi pemberlakuan ASEAN
Economic Community 2015. Indonesia tidak akan mampu mengambil kesempatan dan
bersaing dengan negara-negara ASEAN lain yang memiliki kinerja sektor manufaktur yang
jauh lebih baik.
1 C.P.F Luhulima, DKK. (2009), Masyarakat Asia Tenggara Menuju Komunitas ASEAN 2015,
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008.
2 Dodi Mantra, Hegemoni dan Diskursus Noeliberalisme, Bekasi: MantraPress, 2011.
Tags: