Makalah Perkembangan Teknologi LTE Di Indonesia

Document Details:
  • Uploaded: May, 26th 2015
  • Views: 1,150 Times
  • Downloads: 5 Times
  • Total Pages: 6 Pages
  • File Format: .pdf
  • File size: 160.47 KB
  • Uploader: amanda
  • Category: Miscellaneous
 add to bookmark | report abuse
Perkembangan Teknologi LTE di Indonesia
Arvito Diemas Ramadean (36156)
Abstrak Standar teknologi wireless dituntut harus terus mengalami evolusi menjadi
semakin baik,baik dalam hal penyediaan layanan mobile broadband , kecepatan data dan
area akses yang semakin luas. Hal itu dilihat dari sisi pelanggan, sedangkan dari sisi
penyedia jaringan juga perlu desain jaringan yang lebih sederhana namun dapat bekerja
dengan seoptimum mungkin.Teknologi Long Term Evolution atau sering disebut LTE
menjawab persoalan tersebut. Sejauh ini teknologi yang banyak dikenal orang 3G atau 3,5G
(HSDPA). LTE ini dianggap yang paling siap menuju 4G, meskipun standarnya belum
memenuhi standar 4G, sehingga sering disebut 3,9G. LTE dengan arsitektur jaringan yang
lebih sederhana serta radio akses yang digunakan adalah OFDM pada arah downlink dan
Single Carrier FDMA (SC-FDMA) pada arah uplink, memunginkan laju data sebesar
100Mbps (downlink) dan 50Mbps (uplink) dengan spectrum bandwidth 20 MHz.
Kata KunciLTE, 4G, OFDM, SC-FDMA, 3GPP.
A. Pendahuluan
Dewasa ini kebutuhan perangkat
telekomunikasi tidak hanya untuk
komunikasi suara saja, tetapi
merupakan tuntutan agar dapat
melakukan komunikasi multimedia
seperti gambar, video, data dan
sebagainya. Meningkatnya kebutuhan
masyarakat merupakan pemicu
pesatnya perkembangan yang terjadi
dibidang telekomunikasi.
Perkembangan tersebut dapat dilihat
dengan semakin meningkatnya
kecepatan dalam akses data
ditawarkan. Teknologi layanan
broadband terus mengalami
perkembangan dari generasi ke
generasi. Dimulai dari generasi
pertama atau 1G yang berbasis analog
dengan standar teknologi Nordic
Mobile Telephone (NMT), kemudian
generasi 2G, 2G merupakan sistem
digital mobile pertama, 3G
merupakan sistem yang menggunakan
mobile broadband pertama, kemudian
4G atau dikenal dengan Long Term
Evolution (LTE).
LTE merupakan teknologi baru,
dengan arsitektur dan metode yang
baru juga yang menawarkan latency
rendah, perencanaan radio yang
fleksibel, dan efisiensi spectrum yang
tinggi yang memungkinkan operator
untuk mendukung peningkatan
jumlah pelanggan. LTE sendiri
sebenarnya sudah merupakan
teknologi yang mendukung untuk
memberikan kemudahan dalam
pelayanan akses broadband kepada
penggunanya .
B. LTE (Long Term Evolution)
3GPP LTE adalah nama yang
diberikan untuk standar teknologi
komunikasi baru yang dikembangkan
oleh 3GPP untuk mengatasi
peningkatan permintaan kebutuhan
akan layanan komunikasi, LTE adalah
lanjutan dan evolusi 2G dan 3G
sistem dan juga untuk
menyediakan layanan tingkat kualitas
yang sama dengan jaringan wired.
The 3rd Generation Partnership
Project (3GPP) mulai bekerja pada
evolusi sistem selular 3G pada bulan
November, 2004. 3GPP adalah
perjanjian kerja sarana untuk
pengembangan sistem komunikasi
bergerak dalam rangka untuk
mengatasi kebutuhan
telekomunikasi di masa depan
(kecepatan data yang tinggi, efisiensi
spektral, dan lain-lain). 3GPP LTE
dikembangkan untuk memberikan
kecepatan data yang lebih tinggi,
latency yang lebih rendah, spektrum
yang lebih luas dan teknologi paket
radio yang lebih optimal.
3GPP RAN working group memulai
membuat standardisasi LTE/EPC
pada Desember 2004 dengan studi
kelayakan terhadap evolusi UTRAN
dan untuk semua EPC IP based.
Dibulan Desember 2007 semua
spesifikasi fungsional LTE teah
diselesaikan. selain itu,
spesifikasi fungsional EPC telah dapat
menjadi tonggak utama dalam
interworking antara 3GPP dan
jaringan CDMA. Di tahun 2008,
3GPP working group terus meneliti
untuk menyelesaikan semua protokol
dan spesifikasi performance LTE, dan
tugas tersebut dapat diselesaikan pada
bulan Desember 2008 dan diakhiri
dengan adanya 3GPP release 8.
Long Term Evolution adalah sebuah
nama yang diberikan pada sebuah
projek dan Third Generation
Partnership Project (3GPP) untuk
memperbaiki standar mobile phone
generasi ke-3 (3G) yaitu UMTS
WCDMA. LTE ini merupakan
pengembangan dan teknologi
sebelumnya, yaitu UMTS (3G) dan
HSPA (3.5G) yang mana LTE disebut
sebagai generasi ke-4 (4G). Pada
UMTS kecepatan transfer data
maksimum adalah 2 Mbps, pada
HSPA kecepatan transfer data
mencapai 14 Mbps pada sisi downlink
dan 5,6 Mbps pada sisi uplink, pada
LTE ini kemampuan dalam
memberikan kecepatan dalam hal
transfer data dapat mencapai 100
Mbps pada sisi downlink dan 50
Mbps pada
sisi uplink. Selain itu LTE ini mampu
mendukung semua aplikasi yang ada
baik voice, data, video, maupun
IPTV.
LTE diciptakan untuk memperbaiki
teknologi sebelumnya. Kemampuan
dan keunggulan dari LTE terhadap
teknologi sebelumnya selain dari
kecepatannya dalam transfer data
tetapi juga karena LTE dapat
memberikan coverage dan kapasitas
dan
layanan yang lebih besar, mengurangi
biaya dalam operasional, mendukung
penggunaan multiple-antena, fleksibel
dalam penggunaan bandwidth
operasinya dan
juga dapat terhubung atau terintegrasi
dengan teknologi yang sudah ada.
3GPP (3rd Generation Partnership
Project) mempunyai suatu latar
belakang selama 10 tahun untuk
pengembangan WCDMA karena
3GPP berawal dan tahun 1998. 3GPP
release ditunjukkan pada gambar 6,
dimulai dan WCDMA release, release
99 dan diikuti release berikutnya.
C. Penerapan LTE di Indonesia
LTE ditargetkan hadir pada tahun
2012 sepertinya meleset dari jadwal.
LTE dapat digunakan di wilayah hot
zone. LTE juga bisa
diimplementasikan operator GSM
ataupun CDMA. Perkembangan LTE
di Indonesia nantinya akan bersamaan
dengan kehadiran WiMAX. Salah
satu operator di Indonesia, Telkomsel,
memilih menerapkan teknologi LTE.
XL juga menyatakan ketertarikannya
pada LTE karena cocok untuk
jaringan 3G dan HSDPA XL.
Banyaknya operator GSM di
Indonesia yang berencana
mengimplementasi LTE karena LTE
dianggap lebih mudah dibandingkan
WiMAX yang membutuhkan
perubahan besar-besaran pada
infrastruktur operator GSM.
Sehingga dari segi investasi LTE tiga
kali lebih murah. Dari segi desain,
LTE dan WiMAX berasal dari pasar
yang berbeda, sehingga kehadiran
keduanya tak mengancam satu sama
lain. Nokia Siemens Network (NSN)
pada akhir tahun 2008 menghadirkan
test bed sebagai tempat uji coba di
bidang Information and Technology
(ICT) dalam mewujudkan teknologi
LTE. NSN membantu Telkomsel
meningkatkan kapasitas layanan
broadband nirkabel bergerak dengan
Direct Tunnel, yang menyiapkan
pondasi jaringan 4G berbasis IP dan
LTE.
Telkomsel telah
mengimplementasikan Direct Tunnel
di kawasan Jabodetabek. LTE
merupakan teknologi pertama yang
diratifikasi sebagai teknologi radio
Next Generation oleh Aliansi
NGMN, dimana teknologi ini
memenuhi persyaratan Aliansi
NGMN berupa latency yang kurang
dari 5ms dan pengaturan panggilan
100 ms disamping syarat lain seperti
kepadatan panggilan dan kecepatan
laju bit maksimum. Dengan
bergabungnya LTE dengan varian
Frequency Division Duplex (FDD)
dan Time Division Duplex (TDD),
maka terjadi evolusi dari UMTS,
HSPA, dan TD-SCDMA. Jaringan
Core yang berasosiasi dengan LTE
juga memberikan jalan bagi jaringan
CDMA-2000 untuk berintegrasi,
sehingga dapat menjadikan LTE
evolusi yang sesuai bagi banyak
operator.
D. Kompetisi WiMAX dengan LTE
Teknologi LTE merupakan standar
terbaru teknologi jaringan bergerak,
sebagai perkembangan dari GSM/
EDGE dan UMTS/ HSxPA. LTE
mampu memberikan kecepatan
downlink hingga 100 Mbps dan
uplink hingga 50 Mbps.
Seperti halnya WiMAX, LTE sering
dipromosikan sebagai jaringan 4G,
meskipun lebih
tepat disebut sebagai jaringan 3.9G.
Maravedis melaporkan pada akhir
2011 sudah 54 operator yang
menggelar LTE secara komersial
dengan jumlah pelanggan mencapai
12.02 juta. Lebih lanjut diprediksi
jumlah pelanggan pada akhir tahun
2016 bakal
mencapai 469 juta.
WiMAX lahir sekitar dua tahun
mendahului LTE. Versi terbaru
WiMAX dan LTE diyakini mampu
memberikan kecepatan 1 Gbps untuk
pemakaian tetap dan 100 Mbps untuk
pemakaian bergerak. Keduanya juga
sama-sama kandidat 4G. WiMAX
berasal dari teknologi broadband
WiFI, sedangkan LTE berasal dari
teknologi bergerak 2G/3G.
Analis menilai bahwa Mobile
WiMAX dan LTE memiliki kinerja
yang relatif sebanding. WiMAX dan
LTE dipastikan akan bersaing keras,
sebagaimana persaingan GSM dan
CDMA. Namun karena LTE memiliki
basis teknologi yang telah diadopsi
luas, dipastikan penetrasi LTE jauh
lebih cepat dan masif dibanding
WiMAX, meskipun teknologi tersebut
lahir belakangan.
Laporan Maravedis menyimpulkan
bahwa pertumbuhan pesat LTE di
tahun 2011 telah menahan
pertumbuhan pelanggan WiMAX
yang semula berkisar 25-30 persen
per tahun menjadi 14 persen saja.
E. Operator WiMAX dan LTE di
Indonesia
Pada November 2009, pemerintah
Indonesia menetapkan pemenang
tender lisensi WiMAX untuk 15 zona
secara nasional. Beberapa pemenang
tender mundur hingga pada Agustus
2010 tinggal lima operator yang
mengantungi lisensi tersebut, yaitu
Telkom, Indosat Mega Media, Berca,
Jasnita dan First Media.
Dari lima operator tersebut baru First
Media dan Berca yang telah
menggelar WiMAX secara komersial.
Sedangkan Telkom, Indosat dan
Jasnita tampaknya ragu-ragu untuk
melangkah lebih jauh.
First Media telah menggelar WiMAX
di wilayah Jabotabek dengan 10 BTS.
Penjualan
komersial telah dimulai awal 2011
dengan merek dagang Sitra. Pada
November 2011 Sitra menyatakan
telah mempunyai 7.000 pelanggan.
Berca baru melakukan komersial pada
Februari 2011 dengan merk dagang
WiGO. Jaringan WiGO tergelar di
delapan kota yaitu Medan,
Balikpapan, Batam, Denpasar,
Makassar, Pekanbaru, Palembang,
dan Pontianak. Sampai akhir tahun
2012 WiGO merencanakan 400 BTS
WiMAX.
Kenapa teknologi kandidat 4G ini
tidak populer di Indonesia? Paling
tidak ada tiga alasan penting seperti
berikut: Pertama, kebijakan lisensi
Fixed WiMAX. Pada awalnya lisensi
yang ditender pemerintah adalah
Fixed WiMAX. Padahal pada saat
yang sama standar Mobile WiMAX
telah diterbitkan dan siap komersial.
Para pemegang lisensi tampak ragu-
ragu menggelar Fixed WiMAX,
khawatir layanannya tidak mampu
bersaing dengan Mobile WiMAX
yang tentu lebih digemari pasar.
Meskipun belakangan sikap
pemerintah melunak, dengan
mengizinkan pemegang lisensi
menggelar Mobile WiMAX, namun
respon tersebut di anggap terlambat.
Kedua, kebijakan tingkat kandungan
dalam negeri (TKDN). Pemerintah
mensyaratkan TKDN minimal 30
persen untuk perangkat dan 40 persen
untuk base station. Maksud kebijakan
tersebut sangat baik, yaitu
membangkitkan industri lokal dan
transfer teknologi. Sehingga
munculah produsen perangkat lokal
seperti TRD dan HARIFF serta
pembuat chipset XIRKA. Namun
konsekuensinya, harga perangkat
menjadi relatif lebih mahal karena
skala ekonominya yang terbatas.
Ketiga, bayangbayang LTE.
Operator GSM sudah pasti akan
menggelar LTE ketika lisensinya
telah ditender pemerintah. Dengan
jumlah pelanggan seluler yang telah
mencapai 245 juta, penetrasi LTE
tentu bakal meluas. Pada kondisi
demikian, operator WiMAX menjadi
semakin sulit bersaing melawan LTE.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di
Indonesia, tapi di seluruh dunia. Sejak
lisensinya di tender pemerintah tahun
2009 lalu, sampai saat ini baru First
Media dan Berca yang menjual
teknologi WiMAX secara komersial.
Itu pun dengan jumlah pelanggan
yang tidak signifikan.
Lalu bagaimanakah nasib WiMAX ke
depan?
Sebagai operator GSM, Indosat
tampaknya batal menggelar WiMAX.
Indosat diperkirakan akan lebih fokus
mempersiapkan tender LTE untuk
mempertahankan 50 juta pelangganya
dari gempuran XL dan Telkomsel.
Secara teknologi keduanya
menggunakan OFDM/OFDMA,
AMC serta MIMO guna untuk
meningkatkan kapasitas, efisiensi,
spectrum, serta kualitasnya.
Dari kelima operator pemegang
lisensi, sebenarnya Telkom dan First
Media yang paling potensial
mengembangkan WiMAX. Telkom
dapat memanfaatkan teknologi
WiMAX untuk mengupgrade jaringan
Speedy maupun Flexi. Namun
sepertinya Telkom punya pilihan lain,
mungkin Telkom memilih GPON
untuk Speedy dan EVDO-LTE untuk
Flexi. Jika Telkom dan Indosat batal
menggelar WiMAX, maka yang
bertahan adalah Jasnita. Seandainya
Jasnita jadi menggelar WiMAX,
berarti
ada tiga operator yang akan
melanjutkan kiprah WiMAX di
Indonesia, yaitu First Media, Berca
dan Jasnita. Dari ketiganya, hanya
Fisrt Media yang sudah punya
pengalaman di industri
telekomunikasi ritel. Perkembangan
WiMAX dipastikan semakin sulit
manakala LTE sudah komersial. Jika
tahun depan pemerintah menggelar
tender LTE, kemungkinan 2014 sudah
mulai komersial. Dengan demikian
momentum
WiMAX sangat singkat, yaitu 2012
2014. Mampukah ketiga operator
tersebut menggenjot penetrasi
WiMAX dalam dua tahun ke depan?
Pada kondisi demikian, sepertinya
perkembangan WiMAX tidak
mungkin berlari cepat.
Karenanya wajar jika Berca hanya
menargetkan sejuta pelanggan dalam
lima tahun ke depan. Teknologi
WiMAX akan ditinggalkan akibat
LTE, sebelum sempat berkembang.
Demikianlah siklus teknologi
telekomunikasi, lahir berkembang dan
akhirnya mati
karena teknologi yang lebih diminati.
F. Kekurangan dan Kelebihan
LTE
Kelebihan Teknologi 4G LTE :
Kecepatan Internet yang
cepat
Kekurangan Teknologi 4G LTE :
Biaya untuk infrastruktur
jaringan baru realtif mahal
Jaringan harus diperbaharui
Memerlukan device yang
mendukung LTE
Displaying 5 of 6 pages, to read the full document please DOWNLOAD.