Tugas Metodologi Ilmu Politik Pelecehan Seksual Yang Terjadi Di Media Massa

Document Details:
  • Uploaded: May, 20th 2015
  • Views: 249 Times
  • Downloads: 0 Times
  • Total Pages: 13 Pages
  • File Format: .docx
  • File size: 185.02 KB
  • Uploader: amanda
  • Category: Miscellaneous
 add to bookmark | report abuse
Metodologi Ilmu Politik - Pelecehan Seksual yang Terjadi di Media Massa
Oleh :
-
Artikel yang saya teliti adalah tentang pelecehan seksuat yang terjadi di
media massa. Dewasa ini, banyak dari kita yang sebenarnya tidak mengetahui
bahwa media massa mungkin menjadi salah satu media dalam penyebaran
pelecehan seksual. Di artikel yang saya baca penulis disini cenderung memojokkan
media massa dan lebih berpihak kepada korban-korban yang secara tidak langsung
menjadi korban dari pelecehan seksual. Penulis disini lebih berdasarkan opini dari
penulis sendiri. Penulis bersifat subjektif karena menggunakan argumennya
sendiri. Jadi, dalam artikel yang saya gunakan ini, penulis menggunakan
metodologi etic dan menggunakan cara pandang subjektif.
Artikel terkait
Pelecehan Seksual Melalui Media Massa
10 January 2013 - dalam Gender Oleh yayan-s-fisip
Pelecehan Seksual Melalui Media Massa
Seorang ibu menulis surat kepada anak perempuannya, Kenny, tentang betapa kejamnya
pelecehan seksual kepada perempuan di tempat umum, termasuk kendaraan umum. Awalnya, dia
menuliskan catatan hariannya, apa yang dilihatnya di bus kota dan tempat umum. Petikan isi
surat antara lain (salah satu pemenang lomba menulis surat yang diselenggarakan Rifka Anissa
Yogyakarta dalam rangka Hari Kartini 2004):
“Kenny anakku, Mama minta maaf mungkin Mama tidak bisa mengungkapkan dengan bahasa
yang lebih halus, tetapi itulah kenyataan. Betapa Mama sangat khawatir, betapa diri kita, yang
dilahirkan sebagai makhluk bernama perempuan, akan diberi tubuh yang hampir setiap hari akan
menjadi sasaran bagi keisengan laki-laki. Bahkan, ketika kita mencoba melindungi diri sendiri,
kita malah direndahkan. Begitu banyak peristiwa yang kamu lihat dan kau alami kelak. Mulai
dari ojek, angkutan kota, bus, bahkan kereta yang menjadi alternatif angkutan murah,
memungkinkan terjadinya pelecehan terhadap perempuan.
Bagaimana akal? Tak mungkin semua orang di dunia ini memiliki banyak uang untuk menyewa
taksi atau memiliki angkutan pribadi. Bagaimana kita menuntut laki-laki tak dikenal itu ke
pengadilan. Bagaimana kita menemukan dan menyeret mereka ke pengadilan agar dihukum
seberat-beratnya sesuai undang-undang (anti) pelecehan terhadap wanita, sedangkan kita tidak
bisa lagi menemukan mereka? Haruskah mahasiswi tidak keluar malam, sementara dia harus
praktikum hingga malam hari? Haruskah setiap wanita berhenti bekerja, sementara gaji suami
tidak cukup dan kebutuhan keluarga bertambah besar? Haruskah setiap wanita naik pesawat,
kereta atau bus eksekutif, sementara tujuannya adalah menjenguk orangtua yang sakit dan justru
membutuhkan uang banyak?
Petikan surat di atas menunjukkan pelecehan seksual bisa terjadi di mana saja, kapan saja, dan
pelaku maupun korban bisa saja laki-laki maupun perempuan. Tidak terkecuali lewat media
massa yang secara subtil menyajikan pelecehan seksual baik dalam sinetron, iklan, infotainment,
maupun video klip. Pada program berita (news), memang kerap diberitakan pelecehan seksual
yang terjadi di masyarakat. Akan tetapi silakan pantau sederetan iklan yang ditampilkan di media
televisi; misalnya iklan untuk yang menawarkan rokok, minuman penambah energy, obat
penambah tenaga dan semangat lembur bagi lelaki, kondom, motor. Banyak produk yang
berhubungan langsung dengan perempuan mempergunakan dunia perempuan, semata untuk
menarik perhatian. Semua sarat eksploitasi tubuh perempuan yang merendahkan martabat
perempuan serta memberikan contoh pelecehan seksual terhadap perempuan.
Iklan tidak jarang menampilkan perempuan sebagai objek seks dan instrumen seks. Sekedar
memberikan contoh: sebuah iklan pompa air menggambarkan produk sebegitu jauhnya, ketika
mengasosiasikan kekuatan pompa airnya sebagai “kuat sedotannya dan kencang semburannya”
dengan fokus gambar sepasang laki-laki dan perempuan yang menggunakan busana minim
model kemben. Orang tentu akan segera berpikir dan berfantasi tentang aktivitas seks dengan
iklan tersebut. Contoh lain tentang iklan kopi susu yang menyajikan model laki-laki sedang
merasakan nikmatnya kopi sambil berkata “Pas susunya”, kemudian muncul tayangan mengarah
pada payudara. Disini unsur pelecehan seksualitas perempuan sangat kuat terlihat.
Jika dianalisis lebih lanjut, terdapat nilai-nilai gender yang selalu berusaha diusung oleh iklan
obat kuat atau stimulan seksual. Laiknya iklan di media yang mengabadikan atau mereproduksi
stereotip laki-laki dan perempuan dalam peran tradisional mereka, dalam iklan obat kuat, relasi
antara laki-laki dan perempuan dalam urusan hubungan seksual masih menunjukkan
ketimpangan. Perempuan dalam iklan stimulan seksual dicitrakan menjadi pihak yang kalah atau
selalu harus melayani dan memenuhi kebutuhan laki-laki dalam hubungan seksual. Sementara
itu, laki-laki dicitrakan memiliki kontrol terhadap seksualitas kaum perempuan jika ia
mengonsumsi alat atau obat seks tersebut. Dalam iklan itu pula, acap kali perempuan dicitrakan
sebagai objek seksual bagi laki-laki macho dan perkasa (Suryandaru, 2002)
Lewat sinetron, talk show, tayangan komedi, atau rubrik tertentu di media cetak, juga akan kerap
kita dapati visualisasi berupa siulan nakal, humor porno, komentar berkonotasi dan mengarah ke
pelecehan kemampuan seksual lawan jenis, colekan atau tepukan di bagian tubuh tertentu.
Semua ini merupakan manifestasi pelecehan seksual yang sayangnya tidak dianggap sebagai
sebuah persoalan oleh pekerja media. Tidak digambarkan dalam produk media tersebut adanya
sikap marah, tersinggung, atau malu yang dimunculkan oleh individu yang menjadi sasaran
pelecehan seksual tersebut. Bahkan, ada sebuah iklan yang menggambarkan seorang perempuan
yang menepuk pantat laki-laki di sebuah lift. Model laki-laki tersebut bukannya marah, tetapi
malah tertawa menyeringai.
Pengertian Pelecehan Seksual
Secara umum yang dimaksud dengan pelecehan seksual adalah segala macam bentuk perilaku
yang berkonotasi atau mengarah kepada hal-hal seksual yang dilakukan secara sepihak dan tidak
diharapkan oleh orang yang menjadi sasaran sehingga menimbulkan reaksi negatif seperti malu,
marah, benci, tersinggung, dan sebagainya pada diri individu yang menjadi korban pelecehan
tersebut. Rentang pelecehan seksual ini sangat luas, yakni meliputi: main mata, siulan nakal,
komentar berkonotasi seks atau gender, humor porno, cubitan, colekan, tepukan atau sentuhan di
bagian tubuh tertentu, gerakan tertentu atau isyarat yang bersifat seksual, ajakan berkencan
dengan iming-iming atau ancaman, ajakan melakukan hubungan seksual hingga perkosaan.
Pelecehan seksual bisa terjadi di mana saja dan kapan saja. Meskipun pada umumnya para
korban pelecehan seksual adalah kaum wanita, namun hal ini tidak berarti bahwa kaum pria
kebal (tidak pernah mengalami) terhadap pelecehan seksual (masih ingat film Disclosure di mana
si pria menjadi korban?).
Pelecehan seksual bisa terjadi di mana saja dan kapan saja, seperti di bus, pabrik, supermarket,
bioskop, kantor, hotel, trotoar, baik siang maupun malam. Pelecehan seksual di tempat kerja
seringkali disertai dengan janji imbalan pekerjaan atau kenaikan jabatan. Bahkan bisa disertai
ancaman, baik secara terang-terangan ataupun tidak. Kalau janji atau ajakan tidak diterima bisa
kehilangan pekerjaan, tidak dipromosikan, atau dimutasi. Pelecehan seksual bisa juga terjadi
tanpa ada janji atau ancaman, namun dapat membuat tempat kerja menjadi tidak tenang, ada
permusuhan, penuh tekanan. Beberapa contoh tindak pelecehan seksual yang terjadi antara lain
1) tekanan langsung atau halus untuk untuk tindakan seksual (berciuman, berpegangan tangan,
berhubungan seksual) perilaku genit, gatal atau centil, 2) sentuhan yang tidak diundang atau
kedekatan fisik yang tidak diundang, atau mendorong alat kelamin (penis atau dada) pada
korbannya, 3) agresi fisik seperti ciuman atau menepuk bagian tubuh tertentu, 4) lelucon atau
pernyataan yang menjurus, merendahkan jenis kelamin tertentu dan tidak pada tempatnya, 5)
serangan seksual, gerak-gerik yang bersifat seksual, kasar atau ofensif atau menjijikkan, 6)
perhatian seksual yang tidak diundang dan tidak disukai serta tidak pada tempatnya, 7)
merendahkan martabat seseorang secara langsung karena jenis kelamin mereka secara verbal, 8)
tuntutan berhubungan seks untuk dapat naik jabatan atau tanpa ancaman, 9) gerak-gerik tubuh
yang ‘sok akrab’ secara fisik dan bersifat menjurus ke arah hubungan seks, 10) menunjukkan
gambar seksual, 11) selalu menatap atau melihat bagian tubuh tertentu, 12) membuat pernyataan,
pertanyaan atau komentar yang secara seksual bersifat eksplisit, 13) membuat pernyataan yang
merendahkan gender atau orientasi seksual orang (misalnya, merendahkan seseorang karena ia
homoseksual atau waria).
Ada lima kategori pelecehan seksual. Pertama pelecehan gender, yang berupa ungkapan verbal
atau perilaku merendahkan gender lain. Misalnya, mengatakan: apa sih yang dapat dikerjakan
perempuan dalam kasus semacam ini?. Ke dua, seduction berupa rayuan seksual, sensual yang
diucapkan secara senonoh, misalkan tiba-tiba menelepon mengajak kencan atau menjadikan
seseorang sasaran pembicaraan yang mengandung atau dikaitkan dengan hal-hal seksual. Ke
tiga, bribery merayu dengan disertai upaya “penyuapan”. Misalnya janji akan diberi promosi
kenaikan pangkat atau gaji, janji diluluskan ujian. Ke empat sexual coercion, memaksa atau
mengancam dengan berbagai cara agar korban bersedia melakukan apa yang diinginkan. Ke
lima, sexual imposition berupa perlakuan “menyerang” secara paksa sehingga korban tidak
berdaya menolaknya. Misalnya tiba-tiba mencium dan mendekap dari belakang.
Perspektif Gender Individu dan Institusi Media Massa
Budaya media (media culture) menunjuk pada suatu keadaan di mana tampilan audio dan visual
atau tontotan-tontonan telah membantu merangkai kehidupan sehari-hari, mendominasi proyek-
proyek hiburan, membentuk opini politik dan perilaku sosial, bahkan memberikan suplai materi
untuk membentuk identitas seseorang (Kellner, 1996). Media cetak, radio, televisi, film, internet
dan bentuk-bentuk akhir teknologi media lainnya telah menyediakan definisi-definisi untuk
menjadi laki-laki atau perempuan, membedakan status-status seseorang berdasarkan kelas, ras,
maupun seks. (Maria Hartiningsih, 2003)
Perempuan dalam citra pergaulan ada hubungannya dengan citra peraduan. Anggapan tersirat
bahwa perempuan merupakan alat pemuas kebutuhan laki-laki, kecantikan perempuan
sepantasnya dipersembahkan kepada laki-laki lewat sentuhan, rabaan, pandangan, ciuman dan
sebagainya. Dalam beberapa iklan suplemen makanan dan ramuan tradisional pembangkit gairah
seksual, kepuasaan tidak hanya pada laki-laki tetapi juga berdampak pada diri perempuan yang
merasa dihargai oleh laki-laki.
Walaupun beberapa media telah mencoba menampilkan liputannya dengan menghormati
perempuan korban, misalnya dengan menyembunyikan identitasnya dan dengan menjelaskan
kejadian secara ringkas serta deskriptif saja, tetapi cukup banyak media lain justru melakukan
kekerasan dengan pengobjekan perempuan korban kekerasan. Media sering bersikap sangat tidak
adil pada korban, dan lebih bersimpati pada pelaku. Berita kekerasan seksual ditampilkan dengan
memaksimalkan imajinasi seksual: menaikkan syahwat pembaca, mengobjekkan perempuan
yang telah menjadi korban. Media melakukan kekerasan seksual dalam meliput berita-berita
kekerasan seksual.
Sikap tidak empatis pada korban, dan bias yang berpihak pada pelaku tampak jelas pada berita
yang justru menyalahkan korban dan menyatakan simpati pada pelaku. Apalagi jika perempuan
korban dikategorisasikan, diberi stigma sebagai “bukan perempuan baik-baik”. Penyampaian
bahasanya seakan-akan menampilkan bahwa seorang korban perkosaan menikmati hubungan
seks dan seakan tidak membawa dampak yang berarti bagi korban. Berita tentang perkosaan
ditampilkan dengan judul yang bombastis, misalnya saja kalimat: Ayah “garap” anak tiri; Gadis
desa “digilir” sopir taksi, merupakan contoh bahasa yang menunjukkan perempuan adalah
mahluk yang lemah dan tak berdaya. Cara pikir penulis berita tersebut sangat mungkin mewakili
cara berpikir banyak anggota masyarakat dalam menanggapi berita-berita kekerasan seksual.
Demikianlah masyarakat menganggap enteng bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan.
Ketika media memberitakan peristiwa pemerkosaan dan dalam berita itu disebutkan perempuan
korban berkulit kuning langsat dan bertubuh sintal, maka penulisan peristiwa perkosaan itu telah
menjadikan perempuan korban sebagai korban untuk kedua kalinya (revictimized). Pertama, dia
menjadi korban kekerasan fisik pemerkosa; kedua, dia menjadi korban penulisan; seolah-olah
karena kulitnya yang kuning dan tubuhnya yang sintal itulah yang menjadi penyebab terjadinya
kekerasan atas diri perempuan itu. Beberapa contoh penyampaian berita dalam surat kabar:
“Salahnya Lina,…terlalu materialistis. Begitu ditaksir pemuda keren mengaku anak dokter
spesialis jantung dari Jakarta, dinodai kok diam saja. Sebagai wanita baik-baik seharusnya Lina
tidak asal obral apalagi ia belum mengetahui secara pasti juntrungannya Joko. Tetapi lantaran
”kebelet” kawin, Lina pun rela bugil….”
“Empat wanita dari sekian banyak korban gerayangan Sw yang mungkin baru lecet-lecet saja,
nekad mengadukan si mandor ke kantor polisi. Mereka semuanya berstatus gadis rata-rata 23
tahun, mengaku setiap istrirahat, ”anunya” dicolek-colek dan pinggulnya diesek-esek “jalu” si
mandor yang berumur 35 tahun. Sana sini oke dong!”
Dalam masyarakat muncul pandangan bahwa perempuan adalah objek seks yang fungsi
utamanya di dunia, adalah untuk melayani pria. Dan karena dicitrakan sebagai objek seks,
persepsi bahwa perempuan harus tampil dan berperilaku sebagai objek seks adalah suatu
keharusan. Perempuan harus tampil dengan menonjolkan daya tarik seksual, harus bersedia
mengalami pelecehan seksual dan harus memaklumi perilaku seksual agresif pria.
Semua citra itu berada di dalam pemberitaan media massa kita, juga dalam sinetron-sinetron.
Menjadi pertanyaan, apakah selama ini kekerasan seksual terhadap perempuan terjadi karena
media massa atau media massa yang dipengaruhi oleh fakta yang terjadi dalam masyarakat di
Displaying 5 of 13 pages, to read the full document please DOWNLOAD.