Tugas Pembangunan Perikanan Perempuan Dan Pembangunan Perikanan

Document Details:
  • Uploaded: May, 2nd 2015
  • Views: 117 Times
  • Downloads: 0 Times
  • Total Pages: 9 Pages
  • File Format: .doc
  • File size: 322.70 KB
  • Uploader: amanda
  • Category: Miscellaneous
 add to bookmark | report abuse
Tugas Pembangunan Perikanan-Perempuan dan Pembangunan
Perikanan
Oleh:-
I. PENDAHULUAN
Kajian mengenai perempuan beberapa tahun belakangan ini menjadi suatu topik
yang hangat dan menarik untuk dibicarakan. Perbincangan tersebut dipicu oleh terlihatnya
peningkatan peran serta perempuan yang terjadi hampir di semua sektor kehidupan.
Perempuan mulai dipandang sebagai subjek (pelaku) yang setara dalam akses partisipasi
dan kontrol atas pembangunan serta pemanfaatan hasil pembangunan. Pengarusutamaan
gender merupakan strategi untuk mencapai keadilan dan kesetaraan gender melalui
kebijakan dan program yang meemperhatikan pengalaman, asoisiasi, kebutuhan dan
permasalahan perempuan dan laki-laki dalam perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan
evaluasi, seluruh kebijakan dan program di berbagai bidang kehidupan dan pembangunan.
Kiprah perempuan di Indonesia dalam pembangunan tidaklah sedikit. Kontribusi
ekonomi mereka banyak diwujudkan dalam kegiatan di sektor informal seperti menjadi
pedagang, buruh, pekerja, rumahan dan pekerja keeluaraga, demikian halnya dengan
kegiatan masyarakat pesisir yang menampakkan kerjasama antara kaum lelaki dan
perempuan. Menurut Sharma (2003), perempuan nelayan memainkan peran penting di
bidang perikanan dan memelihara struktur sosial dari rumah tangga dan komunitas mereka,
tetapi kontribusi ekonomi mereka tetap tidak dikenali dan peran mereka juga tidak
terdokumentasikan.
Secara umum, perempuan dalam masyarakat pesisir memegang peranan yang amat
penting dalam menjaga kelangsungan hidup rumaah tangganya. Selain harus bertanggung
jawab terhadapurusan domestik, perempuan (istri) juga harus membantu tugas atau
pekerjaan laki-laki (suami) dengan cara terlibat aktif mencari nafkah untuk memenuhi
kebutuhan rumah tangga. Contoh kasus Pangamba di Desa Patondu, Pantai Utara Pulau
Madura. Kusnadi (2000), menyatakan bahwa sebenarnya perempuan memiliki peranan
yang sangat penting dalam sebagian besar aktivitas domestik dan perdagangan.
Saat ini,perempuan pesisir tidak lagi hanya menjaga serta merawat anggota
keluarga dan rumah tangga saja, akan tetapi juga mencari nafkah dalam rangka membantu
suami untuk mencukupi semua kebutuhan hidup sehari-hari dan membantu meningkatkan
perekonomian keluarganya. Secara kodrat, perempuan dapat melahirkan sehingga mereka
mempunyai kewajiban untuk mengasuh anak-anak, akan tetapi pada saat ini perempuan
pesisir juga memiliki tugas lain di samping menjadi ibu rumah tangga yaitu mencari
nafkah.
Upaya-upaya untuk menignkatkan kesejahteraan nelayan sudah dilakukan, tetapi
kondisi komunitas nelayan belum berubah, maka perlu adanya alternatif dalam kebijakan
pengembangannya. Selama ini kontribusi eekonomi kaum perempuan pada komunitas
nelayan belum dicatat dan belum ada pelibatan kaum perempuan dalam pembangunan.
Pengarusutamaan gender (PUG) dalam pembangunan perikanan pantai menjadi penting
untuk dilakukan memngingat Indonesia adalah negra maritim dan kondisi kesejahteraan
kaum nelayan masih rendah dan belum berubah, dengan tetap memperhatikan pemanfaatan
SDI yang berkelanjutan. PUG sudah tercantum dalam arahan kebijakan pemerintah di
bidang perikanan, dimana definisi PUG menurut Inpers No.9 Tahun 2000 tentang
Pedoman PUG dalam Pembangunan Nasional adalah strategi yang dibangun untuk
mengintegrasikan gender menjadi satu dimensi integral perencanaan, penyusunan,
pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi atas kebijakan dan program pembangunan nasional
(Soenarno, 2007).
II. ISU PEMBANGUNAN PERIKANAN DAN PEREMPUAN
Wilayah pesisir ialah jalur saling pengaruh antara darat dan laut, mempunyai ciri
geosfer khusus; ke arah darat dibatasi oleh pengaruh sifat fisik laut dan sosial ekonomi
bahari, sedangkan ke arah laut dibatasi oleh proses serta akibat kegiatan manusia terhadap
lingkungan darat (Sumawidjaya et al., 2000). Dengan demikian, masyarakat yang hidup
dan menetap di wilayah pesisir disebut masyarakat pesisir. Masyarakat pesisir umumnya
mencari nafkah atau bekerja di bidang perikanan, baik sebagai nelayan, pembudidaya ikan,
pengolah hasil perikanan atau pedagang ikan.
Perempuan nelayan adalah perempuan yang bergerak di bidang perikanan,baik
sebagai bakul ikan, pengolah hasil perikanan atau pengumpul biota laut, yang umumnya
suami atau ayahnya berprofesi sebagai nelayan (DKP, 2001). Menurut Aguilar dan
Castaneda (2001), peran perempuan nelayan adalah melalui kegiatan penangkapan
langsung (mengumpulkan ikan dari terumbu karang atau menggunakan jaring tarik dari
pantai), pengolahan, perdagangan dan pendistribusian ikan kepada sanak famili yang
merupakan bentuk tanggung jawab kepada komunitas.
Dalam dokumen FAO Technical Guidelines for Responsible Fisheries No. 10
Increasing the contributions of small-scale to poverty allevation and food security (2005)
ditegaskan bahwa untuk mengembangkan dan mengimplementasikan suatu sistem
sumberdaya perikanan dibutuhkan kesetaraan gender dan pengakuan terhadap posisi
perempuan dalam komunitas dan dalam sektor perikanan. Menurut panduan FAO, How
small-scale fishers are defined in legislation is important, and has potentially significant
gender impacts. For example, processing and marketing activities where typically women
are more active, in addition to capture fisheries”.
Menurut Kumar (2004), dalam hal partisipasi, perempuan nelayan dalam proses
pengambilan keputusan umumnya tidak terorganisir dengan baik dan kurang efektif
sebagai kekuatan politik dibandingkan dengan lelaki. Ketika perempuan diberi tempat
dalam suatu organisasi dan proses peengambilan keputusan, maka mereka akan membawa
suatu perspektif yang meletakkan peningkatan kualitas hidup dan mata pencaharian
berbasis perikanan sebagai suatu hal yang mendasar. Pola pengambilan keputusan dalam
rumah tangga umumnya, suami merupakan pengambil keputusan yang dominan dalam
urusan pekerjaan produktif dan kemasyarakatan bersifat politik seperti rapat desa,
penyuluhan, koperasi dan kelompok nelayan, sedangkan istri lebih dominan sebagai
pengambil keputusan dalam urusan rumah tangga dan keluarga, termasuk PKK dan
Posyandu.
Struktur sosial dalam komunitas menunjukkan bahwa status lelaki yang menikah
adalah menjadi suami yang merangkap kepala keluarga, sedangkan status perempuan yang
menikah adalah istri. Perempuan berstatus istri wajib mengurus rumah tangga dan berhak
dinafkahi oleh suaminya. Dalam kegiatan sehari-hari, lelaki perempuan mengurus rumah
dan dapat bekerja di luar rumah. Di TPI dan di pengolahan ikan banyak dijumpai
perempuan yang bekerja. Dalam lingkungan keluarga, anak perempuan yang berusia lulus
SD membantu ibu mengurus rumah, bahkan mulai bekerja di industri pengolahan ikan.
Dari sejak dini dan dalam lingkungan keluarga, orangtua sudah membiasakan anak mereka
bekrja sesuai dengan jeis kelaminnya, yaitu anak perempuan dididik oleh ibunya untuk
melakukan pekerjaan domestik. Anak perempuan dari ibu yang bekerja di luar rumah juga
dididik melakukan pekerjaan yang sama, misalnya mengolah ikan atau berjualan. Kaum
perempuan banyak melakukan kegiatan produktif, reproduktif dan sosial di sekitar
lingkungan rumah. Tingginya pemanfaatan waktu perempuan di sekitar lingkungan rumah
menunjukkan bahwa masih kuatnya persepsi lelaki terhadap peran perempuan yaitu
keberadaan dan kegiatan perempuan dilakukan di sekitar keluarga dan rumah (Soenarno,
2007).
Kehidupan nelayan sangat bergantung pada keadaan alam. Pendapatan mereka
cukup ketika musim ikan saja. Ketika cuaca buruk atau mereka tidak melaut, maka
pendapatan merka juga berhenti sehingga mereka memerlukan strateegi lain agar tetap
dapat bertahan hidup dan mendapatkan penghasilan. Moran (1999) mengatakan, jika
masyarakat menghadapi masalah yang berkaitan dengan lingkungannya, maka mereka
akan beradaptasi dengan memilih dan menerapkan beberapa strategi guna mengatasi
masalah tersebut agar mereka tetap bertahan dalam mengahadapi kehidupannya. Salah satu
strategi adaptif rumah tangga nelayan pantai adalah pembagian kerja antara nelayan
pemilik perahu dan istrinya atau buruh nelayan dan istrinya. Pembagian kerja ini
merupakan persetujuan bersama diantara mereka, suami melaut dan istri mengolah dan
menjual ikan serta mengerjakan tugas-tugas rumah tangga (Salamah, 2005).
Nelayan kecil yang biasanya mampu bertahan hidup adalah mereka yang
umumnya mempunyai pekerjaan sampingan atau nelayan yang anggota keluarganya ikut
bekerja. Beberapa nelayan mempunyai sumber pendapatan lain di luar sektor perikanan,
seperti menjadi buruh bangunan, buruh industri, dan buruh tani. Sebagian besar lainnya
melibatkan istri atau anggota keluarga lain untuk membantu mencari nafkah, baik di dalam
atau di luar rumah guna menopang kehidupan ekonomi keluarganya (Suyanto,1996).
Dalam kehidupan nelayan di Kelurahan Ujungbatu misalnya, istri nelayan turut berperan
dalam menopang kehidupan ekonomi keluarga. Sesuai dengan pola kehidupan nelayan,
kebanyakan dari mereka bekerja sebagai pedagang ikan. Dengan dmikian istri nelayan
dapat dikatakan mempunyai peran ganda yaitu sebagai ibu rumah tangga dan mencari
nafkah (Budiastuti, 1994).
Di dalam keluarga nelayan, pendapatan suami kadang tidak cukup untuk memenuhi
kebutuhan dalam keluarganya sehingga anggota keluarga yang lain, seperti istri dan anak-
anaknya ikut dilibatkan dalam kegiatan mencari nafkah. Menurut Aryani (1994),
pendapatan nelayan dibagi menjadi dua sumber yaitu pendapatan dari sektor nelayan dan
non nelayan. Pendapatan dari sektor nelayan berasal dari pendapatan operasi penangkapan
yang dilakukan, sedangkan pendapatan sektor non-nelayan adalah pendapatan yang
diperoleh dari usaha perdagangan, jasa, industri pengolahan ikan yang biasanya dilakukan
oleh para istri nelayan atau kaum perempuan.
Ternyata, peranan perempuan/istri dalam perekonomian rumah tangga nelayan
pantai terbukti relatif besar, berdasar jenis kegiatan yang dilakukan dan dominasi dalam
memegang dan mengatur keuangan rumah tangga serta bertanggung jawab dalam
memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangganya. Istri nelayan lebih banyak melakukan
kegiatan, yaitu mereka mengolah ikan, mulai menimbang, mencuci, memotong, menusuk
potongan ikan dengan tusuk sate, memanggang, menata ikan panggangan di nyiru sampai
menjualnya. Istri nelayan yang bertanggungjawab mengolah dan menjual ikan. Alasan
mereka menjual ikan karena pekerjaan tersebut adalah kewajibannya sebagai istri dan
merupakan kesepakatan bersama dengan suami (Salamah, 2005).
Berdasarkan laporan pengamatan Ikhsan (2003) terhadap kegiatan perempuan di
bidang perikanan di Pulau Jawa diketahui bahwa ada beberapa tingkatan peran perempuan
di bidang perikanan sebagai berikut:
1. Peran sebagai istri yang mengurus anak dan suami, termasuk membantu
membersihkan jaring, menyulam jaring, mengelola hasil tangkapan agar siap
dipasarkan sampai dengan menjual hasil tangkapan ikan oleh suami.
2. Sebagai pekerja hasil laut rumahan (seperti: fillet atau pemotong ikan, picker atau
pengupas kulit rajungan, kerang, keong dan udang, perebus kerang atau keong).
3. Sebagai pekerja pabrik perikanan (seperti: fillet, pembekuan ikan atau udang,
pengepak dan pemberi label).
4. Menjadi bakul yang memasok hasil tangkapan nelayan atau panen ikan kepada para
supplier atau pabrik.
5. Menjadi bendahara (pemegang keuangan) dari perusahaan keluarga (supplier).
6. Menjadi supplier yang memasok bahan baku ke pabrik.
7. Menjadi quality control pabrik.
8. Menjadi eksportir perikanan ke mancanegara.
Displaying 5 of 9 pages, to read the full document please DOWNLOAD.