Landasan Landasan Analisa Struktural

Document Details:
  • Uploaded: May, 2nd 2015
  • Views: 254 Times
  • Downloads: 2 Times
  • Total Pages: 6 Pages
  • File Format: .docx
  • File size: 352.54 KB
  • Uploader: amanda
  • Category: Miscellaneous
 add to bookmark | report abuse
LE M B A R C O V E R T U G A S 2 0 1 3
Nama
NoMahasiswa
-
No. Mahasiswa 12/335707/SP/25364
Nama Matakuliah Metodologi Ilmu Politik
Dosen Nur Azizah dan Purwo Santoso
Judul Tugas
Review Tulisan Struktural
Jumlah Kata 1444 kata
CHECKLIST
Saya telah:
Mengikuti gaya referensi tertentu secara konsisten...................................................................
Memberikan soft copy tugas.....................................................................................................
Deklarasi
Pertama, saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa:
Karya ini merupakan hasil karya saya pribadi.
Karya ini sebagian besar mengekspresikan ide dan pemikiran saya yang disusun
menggunakan kata dan gaya bahasa saya sendiri.
Apabila terdapat karya atau pemikiran orang lain atau sekelompok orang, karya, ide
dan pemikiran tersebut dikutip dengan benar, mencantumkan sumbernya serta disusun
sesuai dengan kaidah yang berlaku.
Tidak ada bagian dari tugas ini yang pernah dikirimkan untuk dinilai, dipublikasikan
dan/atau digunakan untuk memenuhi tugas mata kuliah lain sebelumnya.
Kedua, saya menyatakan bahwa apabila satu atau lebih ketentuan di atas tidak ditepati, saya
sadar akan menerima sanksi minimal berupa kehilangan hak untuk menerima nilai untuk mata
kuliah ini.
______________________________ __________________________________
Tanda Tangan Tanggal
Bab XII
Landasan-Landasan Analisa Struktural
Strukturalisme berasal dari linguistic, antropologi, filsafat, dan sosiologi. Para ilmuwan
politik makin tertarik dengan structural karena ia menangani masalah-masalah politik dengan
cara-cara yang tidak jelas bagi pluralisme. Ada dua diantara banyak bentuk strukturalisme yaitu
metode kontradiksi dan metode keseimbangan. Strukturalisme pertama menekankan konflik dan
yang kedua menekankan keseimbangan. Strukturalisme pertama bersifat dialektis dengan nenek
moyangnya adalah Marxis meskipun kaum marxis dengan tegas menolak dinamakan strukturalis
sedangkan yang kedua bersifat fungsional, keturunan dari Emile Durkheim. Dalam pengertian
ilmu politik, strukturalis tertarik pada sistem kepercayaan bukan sekedar sebagai distribusi
pendapatan umum, tetapi sebagai cara menyusun dunia menurut prinsip-prinsip kewajaran
bahwa ia mengembalikan sisi normative atau sisi moral dari ketimbalikan dan kewajiban. Dalam
hal ini sama seperti filsafat politik.
Kaum strukturalis mempunyai banyak kesamaan dengan kaum marxis. Lepas dari
perbedaan pokok antara mahzab-mahzab pemikiran ini, mereka memiliki perhatian sama.
Mereka menafsirkan peristiwa-peristiwa, rangkaian kejadian, dan kegiatan-kegiatan dalam
kehidupan social termasuk politik dalam pengertian bagan-bagan. Sambil mencari asas-asas
mendasar, mereka mewakili pemikiran pragmatis, yaitu berfikir secara menyeluruh. Metode
kontradiksi dalam ilmu sosial dimulai oleh Marx, metode keseimbangan bermula dari Emile
Durkheim, para pemikir ini dinamakan pra-strukturalis. Menaruh perhatian pada bagaimana
masyarakat berkembang dari pra-industri menjadi industri, mereka adalah para pendahulu
strukturalis dewasa ini.
Asas-Asas Pokok Strukturalisme
Para teoritisi abad kesembilan belas dan awal abad keduapuluh seperti Marx, Darwin,
Durkheim,Weber, percaya pada evolusi yang didasarkan pada pengetahuan. Mereka memandang
masyarakat sebagai suatu organisasi sosial. Ada sebuah model strukturalisme sederhana yang
menekankan interaksi antara makna dan pertukaran. Adanya transaksi pada yang labih rumit dan
terjadi pertukaranke tahapan yang lebih tinggi dalam suatu evolusi oleh Marx disebut gerak
Dialektis. Gerak Dialektis adalah gerakan dari bentuk yang lebih rendah kepada bentuk yang
lebih tinggi, dengan tekhnologi berkembang dari yang sederhana kepada yang kompleks.
Kaum Pra-Strukturalis
Bagi Marx Weber (1864-1920), sosiolog historis Jerman, pertukaran merupakan variable
independen, tetapi makna sistem-sistem normative menggantikannya sebagai landasan struktur
politik. Weber bertanya apakah makna agama bagi timbulnya kapitalisme modern?. Durkheim
dan Weber dalam analisisnya terhadap masyarakat organis menyatakan ketertarikannya pada
transformasi yang sedang terjadi dalam masyarakat industry modern. Durkheim percaya bahwa
norma-norma akan terancam oleh pembagian kerja yang berlebih-lebihan. Durkheim
memandang kehidupan social sebagai organis, dengan semua bagian berinteraksi sebagai sebuah
sistem pengganti. Dalam sistem organis, ketika agama merosot misalnya maka kepercayaan-
kepercayaan lain harus menggantikan. Jika tidak, maka akan terjadi ketidakstabilan di kala
berbagai fungsi tidak dijalankan.
Weber dalam pandangannya mengenai masyarakat tradisional lawan masyarakat modern
menyatakan bahwa berbeda dengan teoritisi evolusionis yang bahwa kemajuan dari tahap yang
lebih rendah ke tahap yang lebih tinggi adalah unilinear. Kaum pra-strukturalis mengemukakan
perbedaan antara pola kehidupan pra industry yang intim, tradisional, menentang perubahan,
dengan sifat kehidupan modern yang lebih tidak pribadi, inovatif, cepat berubah. Tetapi
perbedaan ini tidak mereka lihat sebagai kemajuan. Kaum pra-strukturalis juga ingin menentukan
bagaimana perubahan mempengaruhi cara orang-orang menanamkan tujuan pada kehidupan
social.
Fungsionalisme
Terkecuali Marx, kaum pra-strukturalis menaruh perhatian pada perubahan ketimbang
pada transformasi atau kemajuan. Sebagian berusaha menelaah peranan kelompok-kelompok
khusus dengan menjelaskan timbulnya kapitalisme. Kaum fungsionalis kurang menaruh
perhatian pada sejarah jika dibandingkan pada komposisi berbagai masyarakat yang berlainan,
kebutuhan mereka, dan struktur-struktur yang memuaskan kebutuhan-kebutuhan itu.
Funsionalisme dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan ini: Apakah kebutuhan umum dalam
semua masyarakat? Bagaimana kebutuhan ini dipuaskan dalam berbagai masyarakat yang
berlainan? Tekanannya adalah sinkronis dan juga komparatif.
Fungsionalisme Struktural
Strukturalisme dapat mempertimbangkan politik dari sudut perubahan-perubahan pada
organisasi ketertiban. Hal ini mewakili perhatian politik yang seluas-luasnya. Fungsionalisme
struktur berbeda dengan fungsionalisme deskriptif dari Malinowski. Dikembangkan pada tahun
1940 an dan 50 an oleh Talcott Parsons yang dipengaruhi oleh Durkheim, Weber, Pareto,
fungsionalisme structural berusaha memasukkan behavioralism ke dalam suatu rencana aksi.
Aksi didorong, dan tingkahlaku ditentukan oleh kombinasi-kombinasi hubungan structural.
Tetapi tingkahlaku yang didorong itu menentukan struktur ke duanya ada timbale balik.
Variabel-variabel pola: Kebudayaan, kepribadian, dan sistem sosial semuanya dinyatakan
berupa rangkaian yang sama dari bentuk yang berbeda. Kelima bentuk umum yang diterima, atau
pasangan-pasangan variable, adalah sebagai berikut: Pertama Afektivitas atau netralitas afektif.
Kedua Orientasi diri atau orienatsi kolektif. Ketiga Universalisme atau parsialisme. Keempat
Askripsi atau prestasi. Kelima Kekhasan atau sifat menyebar. Kelima variable ini merupakan
alternatif-alternatif diantara sistem-sistem. Mereka merumuskan lima pilihan fundamental yang
harus dilakukan aktor politik ketika dihadapkan pada situasi.
Keseimbangan versus Kontradiksi
Menelusuri evolusi srukturalisme adalah sulit. Banyak strukturalis begitu saja
menganggap diri mereka sebagai pendukung teori behavioral modern. Kebanyakan kaum Marxis
akan merasa tersinggung dengan istilah itu. Namun kaum kaum fungsionalis structural
menganggap pendekatan mereka secara fundamental berbeda dengan pendekatan kaum Marxis.
Struktur akan menunjukkan bagaimana kebutuhan-kebutuhan dalam masyarakat dapat ditangani
dengan fungsi-fungsi yang ada. Kebutuhan adalah fungsi atau struktur apa saja yang dibutuhkan
agar satuan tetap hidup dalam lingkungannya.
Bab XIII
Krisis Struktural dan Sistem Politik
Masyarakat-masyarakat feudal, kapitalis, sosialis, dan komunis, semuanya memiliki
fungsi-fungsi dasar yang sama, tetapi dipenuhi dalam cara-cara yang berbeda. Dapat diringkas
sebagai berikut;
1. Pengamat mempergunakan kelas dan peran, yang diorganisir dalam hubungan timbale-
balik untuk menentukan kendala dan kesempatan
2. Kepercayaan-kepercayaan, nilai-nilai moral, tujuan, prioritas, dan sasaran-sasaran yang
diutarakan sebagai mitos, agama, dan ideologi mempengaruhi kendala-kendala.
3. Koneksi antara keduanya merupakan bahan penelahaan empiris yang terperinci.
4. Hubungan-hubungan seperti itu terlihat paling jelas pada puncak-puncak tertentu dalam
sejarah misalnya setelah revolusi, perang, atau peristiwa pembentukan tanjung.
5. Keduanya menetapkan batas-batas di sekitar tingkahlaku.
Bahasa Strukturalisme
Strukturalisme merupakan konsep yang digunakan dalam sastra, psikologi, antropologi.
Sejarah seni, sosiologi, pendeknya dimana saja hubungan antara bagian-bagian dan keseluruhan
merupakan pokok utama analisa. Meskipun fungsionalisme, behavioralisme, dan pluralism,
semuanya berbeda namun mereka dapat diubah menjadi bentuk structural. Misalnya pendekatan
pluralis dapat menjadi pendekatan structural jika kita mempertimbangkannya, misalnya tipe-tipe
politis yang berlawanan yang kita perinci pada bab duabelas yaitu totaliterianisme dan
demokrasi. Ada ringkasan metode dan tekanan strukturalisme dalam pengertian perangkat atau
bahasa. Perangkat pertama takni bahasa transformasional. Perangkat kedua yakni bahasa teoritis.
Perangkat ketiga yakni bahasa perbandingan dan kasus.
Model Struktural yang Digeneralisasi
Dalam menghadapi sistem makro keseluruhan masyarakat-masyarakat pemerintah
merupakan subsistem masyarakat dengan tugas utama menangani perubahan-perubahan yang
terjadi perubahan-perubahan yang terjadi ketika katidak-harmonisan antara struktur dan norma
mempengaruhi tingkahlaku. Dari model sosio-politis ini dapat dinyatakan kembali argument
structural sebagai berikut;
1. Kontradiksi-kontradiksi sistematis pada tingkat masyarakat menghasilkan krisis-krisis
2. Krisis-krisis kemasyarakatan yang menentukan adalah institusionalisasi, internalisasi, dan
sosialisasi
3. Pemerintah-pemerintah berusaha memecahkan krisis-krisis ini melalui pembuatan
kebijaksanaan, dengan menggunakan kekerasan atau kekuatan atau menengahi melalui
sarana-sarana politik yang bersifat menyesuaikan atau organisasi
Variabel-variabel Krisis
Variabel-variabel krisis merupakan hasil ketidakharmonisan yang timbul antara norma,
struktur, dan tingkahlaku. Krisis-krisis sosialisasi terjadi pada perpotongan antara struktur dan
tingkahlaku. Sosialisasi dimana peran-peran yang telah dilembagakan dikaitkan dengan
lingkungan organisasi, merupakan satu cara untuk menetapkan tindakan-tindakan para pengisi
peran yang diwajibkan. Merumuskan tindakan yang sesuai merupakan langkah pertama menuju
sosialisasi. Langkah kedua adalah mengajarkan seseorang individu batas-batas perannya. Kedua
tindakan itu mengandalkan motivasi yang sesuai. Krisis-krisis pengahayatan menyatakan bahwa
kalau kelembagaan mengacu pada kegiatan-kegiatan suatu jaringan, atau perangkat hubungan
timbalbalik peran, dan sosialisasi mengacu pada proses belajar dan penyesuaian, penghayatan
menggambarkan ditanamkannya norma-norma dalam kepribadian individu. Ringkasnya
pelembagaan mengaitkan norma dengan struktur, sosialisasi menghubungkan struktur dengan
tingkahlaku, penghayatan menghubungkan tingkahlaku dengan norma-norma.
Sistem-sistem Politik
Pemerintah demokratis menanggapi variable krisis dengan menengahi kelompok-
kelompok yang berselisih untuk meghasilkan kebijaksanaan efektif yang dapat mengatasi sebab-
sebab ketegangan. Sedangkan pemerintah totaliter situasinya berkebalikan. Pemerintah berusaha
menangani pelembagaan, sosialisasi, dan penghayatan dengan memobilisasi penduduk. Ia
mentransformasikan keseluruhan masyarakat, tidak menengahi di dalamnya dan menghimpun
penduduk untuk tujuan ini. Ada sistem sacral dan sistem sekuler, yakni dalam masyarakat yang
berpemerintahan demokratis, dimana pemerintah merupakan variable bergantung dan
masyarakat sebagai variable bebas, pemerintah harus memecahkan krisis-krisis sesuai dengan
kepentingan masyarakat.
Makna Bentuk-bentuk Pemerintahan yang Berbeda
1. Norma-norma politik sacral: Pemerintah-pemerintah yang didasarkan pada norma-
norma sacral sangat beranekaragam, yang kuno dan yang modern. Mereka mencakup
Kerajaan China kuno dan Kerajaan Semit awal.
2. Norma-norma Politik Sekuler: Norma-norma sekuler dibangun di atas suatu kerangka
kerja kaidah-kaidah, bukan di atas tujuan-tujuan negara yang lebih tinggi.
Displaying 5 of 6 pages, to read the full document please DOWNLOAD.