Studi Kasus Buruh Tambang Batu Bara Ombilin Gerakan Buruh Zaman Kolonial

Document Details:
  • Uploaded: February, 12th 2015
  • Views: 237 Times
  • Downloads: 0 Times
  • Total Pages: 15 Pages
  • File Format: .doc
  • File size: 524.49 KB
  • Uploader: Unknown
  • Category: Education > Literature
 add to bookmark | report abuse
TUGAS AKHIR SEMESTER GENAP
MATA KULIAH GERAKAN POLITIK
KELOMPOK 5
GERAKAN BURUH ZAMAN KOLONIAL
STUDI KASUS : ”BURUH TAMBANG BATU-BARA OMBILIN”
DISUSUN OLEH :
-
Jurusan Ilmu Pemerintahan
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Gadjah Mada
2007
”Gerakan Buruh Tambang Batu Bara di Ombilin”
A. Latar Belalang Masalah
Ketika Liberalisasi ekonomi diterapkan oleh pemerintah Hindia-Belanda pada tahun
1870, maka muncul segolongan kelas yang belum pernah ada sebelumnya. Perubahan penting itu
adalah munculnya ”kelas buruh”
1
ditengah-tengah masyarakat Hindia-Belanda. Kelas Buruh ini
muncul akibat dari proses industrialisasi setahun setelah kebijakan liberalisme tersebut
diterapkan
2
. Dari sinilah berbagai macam dinamika penindasan terjadi. Hubungan industrial yang
tidak harmonis antara buruh dan pemilik modal membuat keadaan buruh semakin terpinggirkan.
Oleh karenanya perlu sebuah perlawanan yang kuat untuk menentang kebijakan-kebijakan
perusahaan yang tidak memihak kaum buruh. Perlawanan atau pemberontakan yang dilakukan
buruh sangat penting sebagai bentuk ketidakpuasan dan kekecewaan terhadap pihak perusahaan.
Namun yang menjadi pertanyaan, apakah perlwanan yang dilakukan buruh efektif, mengingat
lawan yang dihadapinya adalah pihak perusahaan yang mendapat perlindungan dari pemerintah
kolonial.
Salah satu kasus eksploitasi pada masa kolonial terjadi pada buruh tambang batu bara
Ombilin di Sawah Lunto, Sumatera Barat. Kelas buruh sering mendapatkan perlakuan yang tidak
sebanding dengan apa yang telah mereka lakukan. Mengingat buruh sudah sangat tertekan
1
Dalam buku Karl Marx, “Capital : vol. 2”, 1957 disebutkan bahwa Buruh merupakan semua
orang yang tidak mempunyai modal.
Term “Buruh” berasal dari skema “circulation of capital”, yang mengandung 3 tahapan, yakni :
Capitalist datang ke pasar dan memposisikan diri sebagai “buyer”. Lalu kapital membeli
faktor produksi berupa “labour power” dan “mean of production”.
Komoditas yang didapat pada fase pertama kemudian masuk tahapan produksi, yakni
pemberian nilai lebih pada komoditas tersebut.
Kemudian capitalist kembali ke pasar sebagai “seller”
2
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/022006/20/teropong/resensi.htm
melihat kualitas hidupnya yang semakin lama - semakin menurun. Maka dari itu, isu perlawanan
yang dimotori oleh organisasi sosial-politik kala itu mendapat respon yang positif dari kalangan
buruh. Disisi lain perlu adanya sebuah organisasi buruh yang bisa mengakomodasi pergerakan
dan kepentingan buruh. Oleh karena itu, Organisasi atau Serikat Buruh sangat penting sebagai
modal kekuatan buruh melakukan perlawanan. Dalam paper ini akan dibahas dinamika yang ada
diantara kaum buruh dan strategi gerakan yang dilakukan oleh buruh tambang batu bara Ombilin
dalam mengadakan perlawanan terhadap pemilik perusahaan. Kemudian akan dipaparkan pula
latar belakang dari gerakan perlawanan yang dilakukan oleh buruh Ombilin beserta tujuan dari
pergerakan tersebut.
B. Sekilas Tentang Buruh Ombilin
Sejak ditemukannya tambang batu bara oleh Ir De Greve pada tahun 1867
3
, terbukalah
pintu bagi pemerintah kolonial untuk memulai bisnis tambang batu bara. Selanjutnya pihak
perusahaan tambang membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah yang besar. Untuk mendatangkan
buruh, pihak perusahaan mengklasifikasikan buruh ke dalam tiga kategori, yakni: buruh bebas,
kontrak, dan paksa. Yang membedakan buruh-buruh tersebut adalah latar belakang dan proses
perekrutan mereka. Buruh paksa umumnya diambil dari penjara-penjara, sedangkan buruh kotrak
umumnya didatangkan dari desa-desa miskin di Jawa. Pemilahan tersebut atas dasar latar
belakang perekrutan mereka. Sehingga sangat sulit bagi buruh untuk pindah status, oleh karena
status mereka sebagai salah satu kelompok buruh telah ditentukan pihak perusahaan berdasarkan
latar belakang yang mereka miliki.
Pada mulanya pemerintah Belanda telah mendatangkan berbagai pekerja seperti orang
Cina dari Penang dan Singapura dan orang Jawa sebagai buruh kontrak (contractanten).
Kelompok pekerja lainnya adalah buruh paksa (dwangerbeiders).
Mereka diambil dari berbagai
penjara di Sumatera Barat, Jawa, Bali dan Makasar
4
. Namun pada akhirnya buruh yang berasal
dari etnis Cina hanya bertahan sampai satu tahun. Hal ini disebabkan karena ongkos transportasi
yang terlalu besar harus dikeluarkan oleh pihak perusahaan. Oleh karena itu seiring berjalannya
3
http://www.indie-indonesie.nl/content/documents/papers-economic%20side/Makalah%209-
Zaiyardam.pdf
4
ibid
waktu pihak perusahaan hanya memakai jasa dari buruh-buruh Hindia-Belanda. Kemudian,
orang Minangkabau yang awalnya enggan bekerja sebagai buruh tambang juga mulai terlibat
dalam kegiatan ini, terutama sebagai buruh bebas (vrije arbeiders).
Keadaan sosial di Pertambangan batu bara Ombilin yang multietnis ini ternyata
menimbulkan dinamika sosial berupa konflik internal diantara kalangan buruh. Bila terjadi
konflik antara buruh kontrak dan buruh paksa, maka pihak perusahaan lebih memihak buruh
kontrak daripada buruh paksa. Hal itu dilakukan agar buruh kontrak tetap bertahan bekerja di
pertambangan batu bara. Perbedaan perilaku ini menimbulkan kecemburuan dikalangan buruh
paksa yang pada akhirnya berujung pada konflik intern. Konflik muncul juga atas dasar adanya
faktor multietnis dikalangan buruh
5
. Buruh-buruh yang bekerja berasal dari daerah yang berbeda-
beda, hal ini dapat memicu adanya konflik karena latarbelang budaya mereka yang berbeda satu-
sama lain. Oleh karena itu, konflik-konflik sering muncul di antara kalangan buruh meski dalam
skala yang kecil.
Pengelompokan buruh yang dilakuakan oleh belanda berdampak pada jumlah upah yang
mereka terima. Masing-masing buruh mendapat upahnya sesuai denga status yang mereka miliki.
Berikut jumlah upah yang diterima oleh buruh bebas, kontrak, dan paksa:
Tingkat Upah Buruh Tambang Batubara Ombilin
Tahun 1905-1930 (dalam sen)
6
Tahun Buruh Paksa Buruh Kontrak Buruh Bebas
1905 18 32 62
1910 20 30 63
1915 22 34 60
1920 21 40 62
1925 17 32 54
1930 25 50 70
5
Pernyataan tersebut adalah masukan dari Sdr. Cuntadi, ketika diskusi kelompok di kelas pada tanggal 23 Mei
2007, mengenai konflik-konflik yang muncul di kalangan buruh Ombilin. Bahwasanya konflik intern yang timbul
dikalangan buruh muncul bukan hanya karena perbedaan tingkat upah yang mereka terima, melainkan karena
adanya factor multietnis yang ada ditubuh buruh Ombilin. Factor ini berpengaruh terhadap pola interaksi mereka
dalam bekerja maupun bersosialisasi. Terlebih adanya perbedaan perilaku oleh pihak Belanda yang lebih memihak
etnis Jawa.
6
Zaiyardam zubir, Radikalisme Kaum Pinggiran, Yogyakarta, 2002, h. 62
Berdasarkan tabel diatas maka dapat dilihat perbedaan signifikan antara upah buruh
bebas, kontrak, dan paksa. Bahwa buruh bebas mendapatkan upah dua kali lipat lebih banyak
dibanding dengan buruh kontrak, sedangkan buruh kontrak mendapat upah dua kali lebih banyak
dibanding buruh paksa. Akan tetapi besar kecilnya upah masing-masing jenis buruh diimbangi
juga dengan jaminan kehidupan. Upah buruh paksa memang lebih kecil dibanding buruh kontrak
dan bebas tapi ia mendapatkan jatah makan dan tempat tinggal.
Namun muncul pertanyaan bagaimana interaksi antara buruh bebas, kontrak dan paksa
7
.
Bagaimana mereka menjalin hubungan hingga mencapai solidaritas untuk segera melakukan
pergerakan melawan pihak perusahaan. Mengingat buruh bebas mendapatkan upah paling besar
dibanding buruh kontrak dan paksa, dan buruh kontrak mendapat upah yang lebih besar
dibanding buruh paksa. Tentunya perbedaan tingkat upah bukan menjadi alasan utama mengapa
mereka mau bergabung dan melakukan tindak perlawanan. Disamping itu mengapa pihak
perusahaan membedakan upah buruh yang dikelomokkan tadi.
8
Pada kenyataannya, buruh kontrak juga mendapatkan berbagai jaminan seperti jaminan
kesehatan, perumahan, makanan. Buruh paksa tidak mendapatkan jaminan itu, bahkan terkesan
kuat mereka malahan diekploitasi, terutama karena kesalahan mereka di mata hukum Belanda di
masa lalu. Perbedaan dan perlakuan inilah yang menimbulkan kekecewaan mendalam di
kalangan buruh, terutama buruh paksa. Walaupun mendapat perhatian lebih baik, buruh kontrak
dan buruh bebas juga mengalami kekecewaan karena rendahnya upah yang mereka terima.
Jaminan kesehatan yang baik mereka dapatkan bukanlah bentuk perhatian istimewa pada buruh,
tetapi semata-mata karena perusahaan membutuhkan buruh yang sehat supaya mereka dapat
bekerja pada lobang-lobang penggalian di bawah tanah atau pada lobang dalam. Untuk bekerja
pada wilayah penggalian dalam itu , buruh sangat membutuhkan kesehatan prima, karena buruh
yang sakit lebih banyak merugikan perusahaan
9
.
Oleh karena adanya perasaan senasib itulah mereka bisa bergabung membangun
solidaritas untuk mengadakan perlawanan terhadap pihak perusahaan. Sehingga perbedaan
tingkat upah yang diterima oleh masing-masing golongan buruh itu tidak menutup pintu bagi
7
Pertanyaan ini dilontarkan oleh dosen pengampu mata kuliah Gerakan Politik: Bpk. Haryanto pada saat diskusi
kelas, tanggal 23 Mei 2007
8
Pertanyaan ini dilontarkan oleh Sdr. Candra pada saat diskusi kelas tanggal 23 Mei 2007
9
Zaiyardam.pdf., Op.Cit.
Displaying 5 of 15 pages, to read the full document please DOWNLOAD.
Tags: batu bara.