Kinerja Induk Panen Anak

Document Details:
  • Uploaded: November, 18th 2014
  • Views: 523 Times
  • Downloads: 1 Times
  • Total Pages: 4 Pages
  • File Format: .doc
  • File size: 298.09 KB
  • Uploader: amanda
  • Category: Engineering > Agricultural
 add to bookmark | report abuse
PANEN ANAK
Di dalam pendahuluan sudah dibahas bahwa ukuran kinerja induk
meliputi angka panen anak dan berat sapih. Panen anak adalah
jumlah anak lepas sapih yang dapat diperoleh dari suatu populasi
induk dalam kurun waktu tertentu.
Panen anak sering disebut calf crop, lamb crop dan sebagainya
sesuai dengan jenis ternak yang dimaksud.Panen anak akan
sangat mempengaruhi pertambahan alami (natural incrase).
Pertambahan alami adalah pertambahan jumlah ternak dalam
suatu kurun waktu tertentu yang disebabkan oleh peristiwa alam,
yaitu kelahiran dan kematian. Adanya pembelian dan pemotongan
tidak masuk dalam perhitungan pertambahan alami.
Besar panen anak dipengaruhi oleh persentase kelahiran, litter
size, dan mortalitas baik neonatal maupun prasapih. Prosentase
beranak adalah jumlah induk yang beranak atau peristiwa
kelahiran yang terjadi dari suatu populasi induk dalam kurun waktu
tertentu. Persentase kelahiran dipengaruhi oleh interval kelahiran.
Interval Kelahiran
Interval kelahiran / jarak beranak adalah jarak antara suatu
kelahiran dengan kelahiran berikutnya. Interval kelahiran secara
spesifik dinamakan sesuai dengan jenis ternaknya, misalnya
calving interval pada sapi, lambing interval pada domba, kidding
interval pada kambing, farrowing interval pada babi, foaling
interval pada kuda dan kindling interval pada kelinci (Blakely dan
Bade, 1998).
Interval kelahiran yang ideal dari sapi adalah 1 tahun, babi 6
bulan, kambing 8 bulan, domba 8 bulan, dan kelinci 3 bulan.
Interval kelahiran dipengaruhi oleh lama kosong dan lama bunting.
Lama Kosong
Lama kosong sering disebut sebagai service periode (periode
servis), yaitu suatu periode di mana induk harus mengalami
perbaikan kondisi alat/organ reproduksinya sebelum dipergunakan
untuk bunting lagi, dapat juga dipahami sebagai suatu periode di
mana seekor induk bisa dikawini.
Lama kosong ini ditentukan oleh post partum mating dan service
perconception.
IK = LK + LB
LK = PPM + SE(S/C – 1)
Dari persamaan di atas terlihat jika S/C = 1 maka lama kosong
sama dengan PPM. Tetapi jika S/C = 2 maka lama kosong sama
dengan PPM ditambah lama siklus estrus.
Post Partum Mating (PPM)
PPM adalah perkawinan kembali setelah kelahiran. Pada ternak
yang spontaneus, seperti sapi, kerbau, kuda, babi, kambing dan
domba, PPM sangat ditentukan oleh post partum estrous (PPE),
yaitu timbulnya gejala estrus setelah melahirkan, karena mereka
tidak akan dapat dikawini jika tidak estrus. Estrus dalam hal ini
adalah estrus yang disertai ovulasi, karena dalam beberapa kasus
dapat terjadi estrus yang tidak disertai ovulasi dan ovulasi yang
tidak menunjukkan gejala estrus.
Pada ternak non spontaneus, misalnya kelinci, perkawinan
kembali dapat ditentukan sesuai dengan keinginan kita.
Post Partum Estrous (PPE)
PPE adalah estrus kembali setelah kelahiran. PPE dipengaruhi
oleh laktasi dan involusi.
Ternak yang baru saja melahirkan tidak akan begitu saja
mempunyai siklus estrus yang normal. Segera setelah kelahiran,
seekor induk akan mengalami laktasi dan involusi. Laktasi adalah
keadaan di mana seekor induk mengeluarkan susu. Pada ternak
potong, susu yang dihasilkan akan disusu/diminum oleh anaknya
sedang pada ternak perah susu yang dihasilkan dapat diperah
untuk dijual atau sebagian dapat juga diberikan pada pedetnya.
Menurut Hunter (1995), selama stadium awal proses laktasi
sekresi hormon trofik kelenjar hipofisis ditujukan lebih banyak
untuk mendukung sintesis susu ketimbang untuk memulai kembali
aktifitas ovarium yang siklis. Situasi ini mengakibatkan terjadinya
periode anestrus laktasi bila hewan betina itu tidak bunting dan
pada umumnya tidak mau dikawini.
Involusi adalah keadaan di mana seekor induk mengalami
penyusutan kembali ukuran alat reproduksinya (terutama uterus,
servik dan vagina) setelah mengalami pembesaran karena proses
kebuntingan dan kelahiran. Waktu yang diperlukan untuk involusi
uterus sapi adalah 35 - 40 hari, domba 20 - 25 hari, babi 21 - 28
hari, dan kuda 8 - 15 hari (Hunter, 1995).
Menurut Hunter (1995), pembatasan lain pada pemulihan fertilitas
adalah menyangkut kondisi saluran reproduksi pada hewan pasca
partus, khususnya uterus dan juga servik pada spesies seperti
babi. Setelah jaringan uterus mengalami peregangan dan distorsi
selama bunting, dan perkembangan kelenjar yang meningkat,
yang diperlukan untuk mendukung konseptus, uterus harus
mengalami kontraksi dan kehilangan berat yang disertai dengan
pertumbuhan kembali lapisan epitelnya secara ekstensif.
Sifat elastis otot memungkinkan penyusutan yang besar dalam
ukuran uterus dalam tempo beberapa jam setelah partus, dan
selama periode ini kontraksi miometrium masih tetap kuat dan
berperan mengeluarkan sisa plasenta, darah dan zalir dari lumen.
(Konsentrasi estrogen fetoplasenta makin meningkat tepat
menjelang lahir, estrogen ini berperan meningkatkan tonus dinding
uterus.) Oksitosin yang timbul akibat refleks penyusuan yang
pengaruhnya berulang setiap jam, misalnya oleh anak babi
selama beberapa hari pertama setelah kelahiran. Jadi proses
penyusuan dapat mempercepat proses involusi dengan
menyebabkan miometrium berkontraksi (Hunter, 1995).
Salah satu alasan mengapa laju involusi itu terbatas adalah
karena adanya periode tidak aktif ovarium secara relatif selama
anestrus laktasi, dan dengan demikian tidak-adanya siklus sekresi
steroid ovarium yang berpengaruh pada jaringan uterus. Mengapa
marmut dapat menunjukkan berahi yang subur dalam beberapa
jam setelah partus ? (Hunter, 1995).
Service perconception (S/C)
S/C adalah jumlah perkawinan yang dibutuhkan untuk terjadinya
konsepsi/pembuahan. Terdapat dua pengertian jumlah
perkawinan dalam penghitungan S/C. Pengertian pertama
mengacu pada kejadian estrus di mana perkawinan yang
dilakukan pada saat estrus yang sama ditetapkan sebagai satu
kali servis, meskipun dalam saat tersebut dilakukan lebih dari satu
perkawinan. Pengertian ini banyak dipakai oleh perguruan tinggi di
mana S/C digunakan sebagai faktor penentu interval kelahiran.
Pengertian kedua mengacu pada kejadian perkawinan itu sendiri
di mana satu kali perkawinan ditetapkan sebagai satu kali servis
sehingga dalam satu masa estrus dapat saja ditetapkan lebih dari
satu kali servis jika dilakukan perkawinan ulangan. Pengertian ini
banyak dipakai oleh dinas di mana S/C digunakan untuk
menentukan jumlah straw (semen beku) yang harus dipersiapkan
dalam program artificial insemination (inseminasi buatan/IB).
S/C terutama ditentukan oleh kondisi induk, ketepatan saat
perkawinan dan kualitas pejantan.
Fertilisasi dan perkembangan embrio memerlukan lingkungan
uterus yang tidak saja memungkinkan pengangkutan dan daya
hidup spermatozoa, tetapi juga dapat memberikan dukungan
metabolisme bagi perkembangan embrio dalam waktu dua atau
tiga harisetelah pembuahan. Embrio tumbuh menjadi stadium
morula dan blastokista menjadi konseptus yang sangat besar
sebelum mulai terjadi perlekatan, selama pertumbuhan itu, embrio
hampir sepenuhnya tergantung pada sekresi kelenjar
endometrium. Pada kenyataannya, pola sekresi hormon ovarium
sebelum dan sesudah estrus ovulasi yang pertama menyebabkan
terjadinya perkembangan endometrium yang sekretoris, tetapi
uterus dapat menjadi lebih baik lagi dalam memberi makan embrio
pra implantasi pada siklus kedua dari perubahan ovarium setelah
jaringan itu terpapar pada pengaruh fase luteal penuh (Hunter,
1995).
Pada keadaan di alam, pejantan akan mengetahui kapan saat
terbaik untuk mengawini betina sehingga pembuahan dapat
terjadi. Pada keadaan di kandang di mana betina dan pejantan
dipisah, maka saat perkawinan yang tepat harus betul-betul
diperhatikan oleh peternak.
Saat perkawinan yang tepat ditentukan oleh kapan saat terjadi
ovulasi di saat timbul gejala estrus dan daya tahan sperma di
dalam saluran reproduksi betina.
Lama Bunting
Kebuntingan adalah masa di mana seekor induk memiliki nak di
dalam uterusnya. Masa ini dimulai dari fertilisasi sampai kelahiran.
Litter Size
Litter size atau jumlah anak sepelahiran adalah jumlah anak yang
dilahirkan dalam satu kali masa kehamilan/kelahiran. Litter size
dipengaruhi oleh ovulation rate, jumlah ovum yang dibuahi, dan
kematian anak dalam kandungan.
Mortalitas Neonatal
Mortalitas neonatal adalah kematian anak pada saat menjelang
dan sesaat sesudah melahirkan.
Mortalitas Prasapih
Mortalitas prasapih adalah kematian anak setelah dilahirkan
sampai dengan disapih.