Nama Aktor Dan Biografi

Document Details:
  • Uploaded: January, 9th 2015
  • Views: 226 Times
  • Downloads: 0 Times
  • Total Pages: 16 Pages
  • File Format: .docx
  • File size: 290.71 KB
  • Uploader: aprilia
  • Category: Miscellaneous
 add to bookmark | report abuse
JAWABAN PENUGASAN UJIAN
TUGAS MATA KULIAH :
AKTOR POLITIK Ir. SOEKARNO
DOSEN :
PROF. Dr. PURWO SANTOSO, MA
Untuk memenuhi sebagian persyaratan
Mencapai Derajat Pascasarjana (S2)
Program Studi Ketahanan Nasional
Diajukan oleh Mahasiswa :
xxx
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2012
PERSOALAN :
Pilihlah salah satu aktor yang memiliki peran yang secara politik menarik untuk
disimak. Telaahlah bagaimana aktor tersebut berpolitik. Tunjukkanlah seberapa
otonom aktor tersebut menentukan dan mewujudkan pilihan-pilihannya. Catatan:
Aktor, dalam konteks ini, tidak harus indivudual. Militer, media massa, akademisi dll
adalah aktor.
1. NAMA AKTOR DAN BIOGRAFI
Ir. Soekarno.
Biografi,
Soekarno (lahir di Blitar, Jawa Timur, 6 Juni 1901 ± wafat di Jakarta, 21 Juni
1970 pada umur 69 tahun) adalah Presiden Indonesia pertama yang menjabat pada
periode 1945-1966. Ia memainkan peranan penting untuk memerdekakan bangsa
Indonesia dari penjajahan Belanda. Ia adalah penggali Pancasila. Ia adalah
Proklamator Kemerdekaan Indonesia (bersama dengan Mohammad Hatta) yang
terjadi pada tanggal17 Agustus 1945. Soekarno menandatangani Surat Perintah 11
Maret 1966 Supersemar yang kontroversial, yang isinya - berdasarkan versi yang
dikeluarkan Markas Besar Angkatan darat, menugaskan Letnan Jenderal Soeharto
untuk mengamankan dan menjaga keamanan negara dan institusi kepresidenan.
Supersemar menjadi dasar Letnan Jenderal Soeharto untuk membubarkan Partai
Komunis Indonesia (PKI) dan mengganti anggota-anggotanya yang duduk
di parlemen. Setelah pertanggung jawabannya ditolak Majelis Permusyawaratan
Rakyat Sementara (MPRS) pada sidang umum ke empat tahun 1967, Presiden
Soekarno diberhentikan dari jabatannya sebagai presiden pada Sidang Istimewa
MPRS di tahun yang sama dan mengangkat Soeharto sebagai pejabat Presiden
Republik Indonesia. Soekarno dilahirkan dengan nama Kusno Sosrodihardjo.
Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo, seoranggurudi Surabaya, Jawa.
Ibunya bernama Ida Ayu Nyoman Raiberasal dari Buleleng, Bali. Ketika kecil
Soekarno tinggal bersama kakeknya di Tulungagung, Jawa Timur. Pada usia 14
tahun, seorang kawan bapaknya yang bernama Oemar Said Tjokroaminoto
mengajak Soekarno tinggal di Surabaya dan disekolahkan ke Hoogere Burger
School (H.B.S.) disana sambil mengaji di tempat Tjokroaminoto. Di Surabaya,
Soekarno banyak bertemu dengan para pemimpin Sarekat Islam, organisasi yang
dipimpin Tjokroaminoto saat itu. Soekarno kemudian bergabung dengan organisasi
Jong Java (Pemuda Jawa). Tamat H.B.S. tahun1920, Soekarno melanjutkan ke
Technische HogeSchool (sekarang ITB) di Bandung, dan tamat pada tahun 1925.
Saat di Bandung, Soekarno berinteraksi dengan Tjipto Mangunkusumo dan Dr.
Douwes Dekker, yang saat itu merupakan pemimpin organisasi National Indische
Partij.
2. Bagaimana Soekarno Berpolitik.
Ketokohan Soekarno begitu melegenda sebagai proklamator dan pemimpin
besar negeri ini, dalam konteks perjuangan Indonesia merdeka di abad modern
namanya tetap menjadi yang terdepan, dicintai oleh rakyat, dibela oleh para
loyalisnya dan diakui oleh Barat sebagai pemimpin yang konsisten dengan
perjuangan anti kapitalisme, kolonialisme dan neo kapitalisme. Nama Soekarno
mempunyai magnet yang besar, pidato pidatonya begitu menggelegar dan
menggelorakan semangat nasionalisme dan kini para soekarnois masih
mempercayai bahwa bung karno yang kharismatik adalah pemimpin besar yang tak
akan pernah tergantikan.
Bung Karno sebagai Icon Nasionalis tidak perlu diragukan lagi, dari barat
hingga ke timur negeri ini seolah meng-amini namun sisi lain bung karno sebagai
sosok guru bangsa yang juga memiliki sisi- sisi islamis tentu tak banyak orang yang
mengetahuinya terlebih di masa kepemimpinannya diwarnai dengan benturan
benturan politik dengan kalangan islamis dan polemik yang menajam seputar dasar
negara dengan tokoh paling terkemuka kalangan Islam saat itu, Mr. Mohammad
Nats Perlu untuk digarisbawahi bahwa kecintaan kalangan Islam kepada bung karno
diekspresikan dengan sikap kritis dan upaya – upaya koreksi atas sikap dan langkah
politik bung karno bukan dengan sikap selalu manis apalagi meng-kultuskan-nya,
sebuah sikap yang dianggap oleh sebagian kalangan soekarnois sebagai sikap
kontra revolusioner, padahal sepanjang sejarah kekuatan politik Islam yang
dipresentasikan oleh Masyumi justru senantiasa bersikap sebagai kekuatan
penyeimbang (oposisi) yang senantiasa “loyal”, meski sejarahnya terbungkus oleh
kabut misteri namun “pengkhianatan” itu akhirnya justru datang dari Partai Komunis
Indonesia (PKI) koalisi strategis pemerintah bung karno yang tergabung dalam
Nasakom yang selalu berusaha mentahbiskan dirinya sebagai kekuatan yang
proggresive revolusioner.
Nama Bung Karno yang dikenal sebagai Putra Sang Fajar tidak bisa
dilepaskan dari tokoh – tokoh Pergerakan Islam yang Istiqomah berjuang demi cita –
cita besar Kemerdekaan Indonesia, pemuda Soekarno pernah mondok di rumah
tokoh Haji Oemar Said Cokroaminoto, tokoh terkemuka Sjarikat Islam, selain belajar
filsafat dan pemikiran Islam pemuda soekarno juga belajar tentang pergerakan
kepada orang yang tepat, bung karno sangat menikmati ceramah dan orasi
cokroaminoto yang penuh energi perjuangan meski berada dalam pengawasan
pihak belanda, gaya orasi sang guru turut membentuk gaya kepemimpinan bung
karno dengan ciri khas pidato pidatonya yang lantang dan berapi api, Islamisme
Cokroaminoto yang dijuluki oleh belanda sebagai “raja jawa tanpa mahkota” sedikit
banyak terserap oleh pemuda soekarno, meski bung karno akhirnya memilih
jalannya sendiri dengan hijrah ke Bandung dan kemudian mendirikan Partai
Nasionalis Indonesia.
Ketika berada dalam pengasingan belanda bung karno senantiasa
berkorespondesi dengan Kyai Haji Mas Mansur, tokoh pergerakan dan ulama
berpengaruh asal Surabaya yang dekat dengan kalangan NU, kelak KH Mas Mansur
dipercaya menjadi Pengurus Besar Pesyarikatan Muhammadiyah dan pada masa
pendudukan jepang mendirikan Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA) dan terlibat dalam
perjuangan bersama Bung Karno dalam Empat Serangkai. Dengan Mas Mansur
Bung Karno sering bertukar pikiran tentang Dinamika Islam dan langkah langkah
untuk me-mudakan pengertian Islam, beliau mengutarakan ketidaksetujuannya
dengan sikap taklid bahkan secara tegas mengkritisi tentang “hijab” atau pembatas
antara jamaah pria dan jamaah wanita, dan banyak kegelisahan-kegelisahan bung
karno tentang permasalahan keislaman yang kesemuanya itu menunjukkan
semangat dan harapan seorang soekarno agar Syiar Islam tidak jalan ditempat.
Selain dengan KH Mas Mansur, Bung Karno juga seringkali berkirim surat
kepada Tuanku A. Hassan, Tokoh Islam Pendiri Persis di Bandung, Dalam Buku “Di
Bawah Bendera Revolusi” surat – surat itu turut didokumentasikan, Bung Karno tidak
segan segan meminta “dikirimi” Literatur Islam tatkala berada dalam pengasingan.
Disisi lain Fatmawati, Isteri Bung Karno dikenal sangat agamis, dalam sebuah
catatan terungkap bahwa pada saat rapat raksasa di Lapangan Ikada yang kini
dikenal sebagai Gelora Bung Karno, fatmawati mengumandangkan ayat ayat suci
Al Qur’an. Latar belakang Fatmawati yang Agamis dinilai juga membawa pengaruh
yang besar terhadap karir politik dan perjalanan hidup bung karno hingga akhir
hayatnya.
Displaying 5 of 16 pages, to read the full document please DOWNLOAD.
Tags: